Sabtu, 23 Mei 2015

Tasawuf Ajaran Rosulullah SAW dan Para Sahabat


Sufi Muda Menemukan Tuhan Dalam Keseharian Tasawuf adalah Ajaran Rasulullah SAW dan Para Sahabat Saya pernah menulis tentang dukungan para ulama besar Fiqih pendiri 4 mazhab besar dan juga pendapat ulama besar zaman sekarang seperti Syekh Yusuf Al-Qardawi dalam dua tulisan yaitu Kesaksian Ulama Fiqih Tentang Tasawuf dan khusus pendapat Syekh Yusuf Qardawi terhadap tasawuf bisa di baca di Fatwa Al-Qardawi Tentang Tasawuf. Berikut adalah tulisan  yang saya kutip sebuah komentar dari blog MutiaraZuhud tentang kehidupan Rasulullah dan Para Sahabat yang menjadi sumber ajaran tasawuf untuk meyakinkan kita semua bahwa ajaran tasawuf adalah benar-benar ajaran Rasulullah SAW. Benih-benih tasawuf sudah ada sejak dalam kehidupan nabi Muhammad SAW. Hal ini dapat dilihat dalam perilaku dan peristiwa dalam hidup, ibadah dan perilaku nabi Muhammad SAW. Peristiwa dan Perilaku Hidup Nabi. Sebelum diangkat menjadi Rasul, berhari-hari beliau berkhalawat (mengasingkan diri) di Gua Hira, terutama pada bulan Ramadhan disana nabi banyak berzikir dan bertafakur dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pengasingan diri Nabi SAW digua Hira ini merupakan acuan utama para sufi dalam melakukan khalawat. Kemudian puncak kedekatan Nabi SAW dengan Allah SWT tercapai ketika melakukan Isra Mikraj. Di dalam Isra Mikraj itu nabi SAW telah sampai ke Sidratulmuntaha (tempat terakhir yang dicapai nabi ketika mikraj di langit ke tujuh), bahkan telah sampai kehadiran Ilahi dan sempat berdialog dgn Allah. Dialog ini terjadi berulang kali, dimulai ketika nabi SAW menerima perintah dari Allah SWT tentang kewajiban shalat lima puluh kali dalam sehari semalam. Atas usul nabi Musa AS, Nabi Muhammad SAW memohon agar jumlahnya diringankan dengan alasan umatnya nanti tidak akan mampu melaksanakannya. Kemudian Nabi Muhammad SAW terus berdialog dengan Allah SWT. Keadaan demikian merupakan benih yang menumbuhkan sufisme dikemudian hari. Perikehidupan (sirah) nabi Muhammad SAW juga merupakan benih-benih tasawuf yaitu pribadi nabi SAW yang sederhana, zuhud, dan tidak pernah terpesona dengan kemewahan dunia. Dalam salah satu Doanya ia memohon: ”Wahai Allah, Hidupkanlah aku dalam kemiskinan dan matikanlah aku selaku orang miskin” (HR.at-Tirmizi, Ibnu Majah dan al-Hakim). “Pada suatu waktu Nabi SAW datang kerumah istrinya, Aisyah binti Abu Bakar as-Siddiq. Ternyata dirumahnya tidak ada makanan. Keadaan ini diterimanya dengan sabar, lalu ia menahan lapar dengan berpuasa” (HR.Abu Dawud, at-Tirmizi dan an-Nasa-i) . Ibadah Nabi Muhammad SAW. Ibadah nabi SAW juga sebagai cikal bakal tasawuf. Nabi SAW adalah orang yang paling tekun beribadah. Dalam satu riwayat dari Aisyah RA disebutkan bahwa pada suatu malam nabi SAW mengerjakan shalat malam, didalam salat lututnya bergetar karena panjang dan banyak rakaat salatnya. Tatkala rukuk dan sujud terdengar suara tangisnya namun beliau tetap melaksanakan salat sampai azan Bilal bin Rabah terdengar diwaktu subuh. Melihat nabi SAW demikian tekun melakukan salat, Aisyah bertanya: ”Wahai Junjungan, bukankah dosamu yang terdahulu dan yang akan datang diampuni Allah, mengapa engkau masih terlalu banyak melakukan salat?” nabi SAW menjawab:” Aku ingin menjadi hamba yang banyak bersyukur” (HR.Bukhari dan Muslim). Selain banyak salat nabi SAW banyak berzikir. Beliau berkata: “Sesungguhnya saya meminta ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya setiap hari tujuh puluh kali” (HR.at-Tabrani). Dalam hadis lain dikatakan bahwa Nabi SAW meminta ampun setiap hari sebanyak seratus kali (HR.Muslim). Selain itu nabi SAW banyak pula melakukan iktikaf dalam mesjid terutama dalam bulan Ramadan. Akhlak Nabi Muhammad SAW. Akhlak nabi SAW merupakan acuan akhlak yang tidak ada bandingannya. Akhlak nabi SAW bukan hanya dipuji oleh manusia, tetapi juga oleh Allah SWT. Hal ini dapat dilihat dalam firman Allah SWT yang artinya: “Dan sesungguhnya kami (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”.(QS.Al Qalam:4) ketika Aisyah ditanya tentang Akhlak Nabi SAW, Beliau menjawab: Akhlaknya adalah Al-Qur’an”(HR.Ahmad dan Muslim). Tingkah laku nabi tercermin dalam kandungan Al-Qur’an sepenuhnya. Dalam diri nabi SAW terkumpul sifat-sifat utama, yaitu rendah hati, lemah lembut, jujur, tidak suka mencari-cari cacat orang lain, sabar, tidak angkuh, santun dan tidak mabuk pujian. Nabi SAW selalu berusaha melupakan hal-hal yang tidak berkenan di hatinya dan tidak pernah berputus asa dalam berusaha. Oleh karena itu, Nabi SAW merupakan tipe ideal bagi seluruh kaum muslimin, termasuk pula para sufi. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al-Ahzab ayat 21 yang artinya:”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah.”. Kehidupan Empat Sahabat Nabi Muhammad SAW. Sumber lain yang menjadi sumber acuan oleh para sufi adalah kehidupan para sahabat yang berkaitan dengan keteguhan iman, ketakwaan, kezuhudan dan budi pekerti luhur. Oleh karena setiap orang yang meneliti kehidupan rohani dalam islam tidak dapat mengabaikan kehidupan kerohanian para sahabat yang menumbuhkan kehidupan sufi diabad-abad sesudahnya. Kehidupan para sahabat dijadikan acuan oleh para sufi karena para sahabat sebagai murid langsung Rasulullah SAW dalam segala perbuatan dan ucapan mereka senantiasa mengikuti kehidupan Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu perilaku kehidupan mereka dapat dikatakan sama dengan perilaku kehidupan Nabi SAW, kecuali hal-hal tertentu yang khusus bagi Nabi SAW. Setidaknya kehidupan para sahabat adalah kehidupan yang paling mirip dengan kehidupan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW karena mereka menyaksikan langsung apa yang diperbuat dan dituturkan oleh Nabi SAW. Oleh karena itu Al-Qur’an memuji mereka: ” Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk islam) diantara orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah sediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya, mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS.At Taubah:100). Abu Nasr as-Sarraj at-Tusi menulis didalam bukunya, Kitab al-Luma`, tentang ucapan Abi Utbah al-Hilwani (salah seorang tabiin) tentang kehidupan para sahabat:” Maukah saya beritahukan kepadamu tentang kehidupan para sahabat Rasulullah SAW? Pertama, bertemu kepada Allah lebih mereka sukai dari pada kehidupan duniawi. Kedua, mereka tidak takut terhadap musuh, baik musuh itu sedikit maupun banyak. Ketiga, mereka tidak jatuh miskin dalam hal yang duniawi, dan mereka demikian percaya pada rezeki Allah SWT.” Adapun kehidupan keempat sahabat Nabi SAW yang dijadikan panutan para sufi secara rinci adalah sbb: Abu Bakar as-Siddiq. Pada mulanya ia adalah salah seorang Kuraisy yang kaya. Setelah masuk islam, ia menjadi orang yang sangat sederhana. Ketika menghadapi perang Tabuk, Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, Siapa yang bersedia memberikan harta bendanya dijalan Allah SWT. Abu Bakar lah yang pertama menjawab:”Saya ya Rasulullah.” Akhirnya Abu Bakar memberikan seluruh harta bendanya untuk jalan Allah SWT. Melihat demikian, Nabi SAW bertanya kepada: ”Apalagi yang tinggal untukmu wahai Abu Bakar?” ia menjawab:”Cukup bagiku Allah dan Rasul-Nya.” Diriwayatkan bahwa selama enam hari dalam seminggu Abu Bakar selalu dalam keadaan lapar. Pada suatu hari Rasulullah SAW pergi kemesjid. Disana Nabi SAW bertemu Abu Bakar dan Umar bin Khattab, kemudian ia bertanya:”Kenapa anda berdua sudah ada di mesjid?” Kedua sahabat itu menjawab:”Karena menghibur lapar.” Diceritakan pula bahwa Abu Bakar hanya memiliki sehelai pakaian. Ia berkata:”Jika seorang hamba begitu dipesonakan oleh hiasan dunia, Allah membencinya sampai ia meninggalkan perhiasan itu.” Oleh karena itu Abu Bakar memilih takwa sebagai ”pakaiannya.” Ia menghiasi dirinya dengan sifat-sifat rendah hati, santun, sabar, dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan ibadah dan zikir. Umar bin Khattab Umar bin Khattab yang terkenal dengan keheningan jiwa dan kebersihan kalbunya, sehingga Rasulullah SAW berkata:” Allah telah menjadikan kebenaran pada lidah dan hati Umar.” Ia terkenal dengan kezuhudan dan kesederhanaannya. Diriwayatkan, pada suatu ketika setelah ia menjabat sebagai khalifah, ia berpidato dengan memakai baju bertambal dua belas sobekan. Diceritakan, Abdullah bin Umar, putra Umar bin Khatab, ketika masih kecil bermain dengan anak-anak yang lain. Anak-anak itu semua mengejek Abdullah karena pakaian yang dipakainya penuh dengan tambalan. Hal ini disampaikannya kepada ayahnya yang ketika itu menjabat sebagai khalifah. Umar merasa sedih karena pada saat itu tidak mempunyai uang untuk membeli pakaian anaknya. Oleh karena itu ia membuat surat kepada pegawai Baitulmal (Pembendaharaan Negara) diminta dipinjami uang dan pada bulan depan akan dibayar dengan jalan memotong gajinya. Pegawai Baitulmal menjawab surat itu dengan mengajukan suatu pertanyaan, apakah Umar yakin umurnya akan sampai bulan depan. Maka dengan perasaan terharu dengan diiringi derai air mata , Umar menulis lagi sepucuk surat kepada pegawai Baitul Mal bahwa ia tidak lagi meminjam uang karena tidak yakin umurnya sampai bulan yang akan datang. Disebutkan dalam buku-buku tasawuf dan biografinya, Umar menghabiskan malamnya beribadah. Hal demikian dilakukan untuk mengibangi waktu siangnya yang banyak disita untuk urusan kepentingan umat. Ia merasa bahwa pada waktu malamlah ia mempunyai kesempatan yang luas untuk menghadapkan hati dan wajahnya kepada Allah SWT. Usman bin Affan Usman bin Affan yang menjadi teladan para sufi dalam banyak hal. Usman adalah seorang yang zuhud, tawaduk (merendahkan diri dihadapan Allah SWT), banyak mengingat Allah SWT, banyak membaca ayat-ayat Allah SWT, dan memiliki akhlak yang terpuji. Diriwayatkan ketika menghadapi Perang Tabuk, sementara kaum muslimin sedang menghadapi paceklik, Usman memberikan bantuan yang besar berupa kendaraan dan perbekalan tentara. Diriwayatkan pula, Usman telah membeli sebuah telaga milik seorang Yahudi untuk kaum muslimin. Hal ini dilakukan karena air telaga tersebut tidak boleh diambil oleh kaum muslimin. Dimasa pemerintahan Abu Bakar terjadi kemarau panjang. Banyak rakyat yang mengadu kepada khalifah dengan menerangkan kesulitan hidup mereka. Seandainya rakyat tidak segera dibantu, kelaparan akan banyak merenggut nyawa. Pada saat paceklik ini Usman menyumbangkan bahan makanan sebanyak seribu ekor unta. Tentang ibadahnya, diriwayatkan bahwa usman terbunuh ketika sedang membaca Al-Qur’an. Tebasan pedang para pemberontak mengenainya ketika sedang membaca surah Al-Baqarah ayat 137 yang artinya:…”Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” ketika itu ia tidak sedikitpun beranjak dari tempatnya, bahkan tidak mengijinkan orang mendekatinya. Ketika ia rebah berlumur darah, mushaf (kumpulan lembaran) Al-Qur’an itu masih tetap berada ditangannya. Ali bin Abi Talib Ali bin Abi Talib yang tidak kurang pula keteladanannya dalam dunia kerohanian. Ia mendapat tempat khusus di kalangan para sufi. Bagi mereka Ali merupakan guru kerohanian yang utama. Ali mendapat warisan khusus tentang ini dari Nabi SAW. Abu Ali ar-Ruzbari , seorang tokoh sufi, mengatakan bahwa Ali dianugerahi Ilmu Laduni. Ilmu itu, sebelumnya, secara khusus diberikan Allah SWT kepada Nabi Khaidir AS, seperti firmannya yang artinya:…”dan telah Kami ajarkan padanya ilmu dari sisi Kami.” (QS.Al Kahfi:65). Kezuhudan dan kerendahan hati Ali terlihat pada kehidupannya yang sederhana. Ia tidak malu memakai pakaian yang bertambal, bahkan ia sendiri yang menambal pakiannya yang robek. Suatu waktu ia tengah menjinjing daging di Pasar, lalu orang menyapanya:”Apakah tuan tidak malu memapa daging itu ya Amirulmukminin (Khalifah)?” Kemudian dijawabnya:”Yang saya bawa ini adalah barang halal, kenapa saya harus malu?”. Abu Nasr As-Sarraj at-Tusi berkomentar tentang Ali. Katanya:”Di antara para sahabat Rasulullah SAW Amirulmukminin Ali bin Abi Talib memiliki keistimewahan tersendiri dengan pengertian-pengertiannya yang agung, isyarat-isyaratnya yang halus, kata-katanya yang unik, uraian dan ungkapannya tentang tauhid, makrifat, iman, ilmu, hal-hal yang luhur, dan sebagainya yang menjadi pegangan serta teladan para sufi. Kehidupan Para Ahl as-Suffah. Selain keempat khalifah di atas, sebagai rujukan para sufi dikenal pula para Ahl as-Suffah. Mereka ini tinggal di Mesjid Nabawi di Madinah dalam keadaan serba miskin, teguh dalam memegang akidah, dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Diantara Ahl as-Suffah itu ialah Abu Hurairah, Abu Zar al-Giffari, Salman al-Farisi, Mu’az bin Jabal, Imran bin Husin, Abu Ubaidah bin Jarrah, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Abbas dan Huzaifah bin Yaman. Abu Nu’aim al-Isfahani, penulis tasawuf (w. 430/1038) menggambarkan sifat Ahl as-Suffah di dalam bukunya Hilyat al-Aulia`(Permata para wali) yang artinya: Mereka adalah kelompok yang terjaga dari kecendrungan duniawi, terpelihara dari kelalaian terhadap kewajiban dan menjadi panutan kaum miskin yang menjauhi keduniaan. Mereka tidak memiliki keluarga dan harta benda. Bahkan pekerjaan dagang ataupun peristiwa yang berlangsung disekitar mereka tidak lah melalaikan mereka dari mengingat Allah SWT. Mereka tidak disedihkan oleh kemiskinan material dan mereka tidak digembirakan kecuali oleh suatu yang mereka tuju. Diantara Ahl as-Suffah itu ada yang mempunyai keistimewahan sendiri. Hal ini memang diwariskan oleh Rasulullah SAW kepada mereka seperti Huzaifah bin Yaman yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW tentang ciri-ciri orang Munafik. Jika ia berbicara tentang orang munafik, para sahabat yang lain senantiasa ingin mendengarkannya dan ingin mendapatkan ilmu yang belum diperolehnya dari Nabi SAW. Umar bin Khattab pernah tercengang mendengar uraian Huzaifah tentang ciri-ciri orang munafik. Adapun Abu Zar al-Giffarri adalah seorang Ahl as-Suffah termasyur yang bersifat sosial. Ia tampil sebagai prototipe (tokoh pertama) fakir sejati. Abu Zar tidak pernah memiliki apa-apa, tetapi ia sepenuhnya milik Allah SWT dan akan menikmati hartanya yang abadi. Apabila ia diberikan sesuatu berupa materi, maka materi tersebut dibagi-bagi kepada para fakir miskin. Begitu juga Salman Al Farisi salah seorang Ahli Suffah yang hidup sangat sederhana sampai akhir hanyatnya. Beliau merupakan salah satu Ahli Silsilah dari Tarekat Naqsyabandi yang jalur keguruan bersambung kepada Saidina Abu Bakar Siddiq sampai kepada Rasulullah SAW. Mudah-mudahan tulisan di atas menjadi informasi yang bermanfaat bagi kita semua sehingga tidak ragu dalam berguru mengamalkan ajaran Tasawuf yang merupakan inti sari Islam yang bersumber dari ajaran Rasulullah SAW dan kemudian ajaran mulia ini diteruskan oleh Para Sahabat, Tabi’in, Tabi Tabi’in serta para Guru Mursyid sambung menyambung dengan tetap menjaga kemurniannya sehingga ajara tasawuf zaman Rasulullah SAW sampai kepada kita tetap dalam keadaan murni. Para Guru Mursyid adalah khalifah Rasulullah SAW ulama Warisatul Anbiya yang menjaga amanah Rasulullah SAW, tidak berani menambah dan mengurangi sehingga ilmu Tasawuf itu tetap terjaga sepanjang zaman.

Selasa, 19 Mei 2015

Ajaran Salat dalam Suluk Linglung Sunan Kalijogo


ABDULLAH HAMID* Sunan Kalijaga dan Karyanya Hampir semua orang di Indonesia, apalagi umat Islam mengenal nama Sunan Kalijaga yang masa kecilnya bernama Raden Mas Syahid. Beliau adalah putera Raden Sahur yang beragama Islam atau Tumenggung Wilatikta, pernah menjadi Adipati Tuban. Haul Akbar Ke-428 Sunan Kalijaga tahun 2013 diperingati tanggal 10 Muharram 1434 H nanti di kompleks makam dan Masjid Kadilangu, Demak. Biasanya diisi lantunan khataman Qur’an, tahlil dan shalawat Nabi. Silsilah Raden Sahur atau Ario Wilotikto ke atas adalah putera Ario Tejo (Islam) atau Syekh Ngabdurahman, menantu Ario Dikara, putera Ario Lena, putera Ario Sirowenang, putera Raden Sirolawe, putera Ronggolawe, putera Ario Wiraraja (Adipati Tuban I), putera Adipati Ponorogo. Itulah asal usul Sunan Kalijaga yang banyak ditulis dan diyakini orang.  Dalam Babad Lasem ditambahkan, masa muda Sunan Kalijaga dihabiskan lama di Lasem untuk berguru dengan Sunan Bonang di Desa Bonang. Nama lainnya adalah Santi Kusuma, memiliki saudara Santi Puspa dan Santiyogo atau Sayid Abubakar atau Sunan Kajoran, sedangkan makam keduanya di Taman Sitoresmi Caruban dekat makam Nyi Ageng Maloka, wafat tahun 1490 M yang membuka pesantren putri yang tidak hanya diperuntukkan bagi masyarakat Lasem tetapi juga santriwati yang berasal dari luar daerah seperti putri Sunan Muria (Komariah), putri Sunan Kudus (Sundariah) yang makamnya juga di Caruban. Bahkan santriwatinya ada dari Minangkabau. Seperti diketahui bahwa Sultan Mahmud dari Minangkabau adalah murid dari Sunan Bonang. Ketika ia pulang ke Minangkabau ia mengajak wanita-wanita Minangkabau untuk belajar di pesantren Maloko, sehingga pesantren ini bertambah ramai.  Sumber lain yang orisinil tentang kisah Wali Songo juga tersedia. Prof MC Ricklefs, sejarawan Inggris yang banyak meneliti sejarah Jawa, juga menerbitkan karya ilmiah dengan subyek sejarah Mataram, Kartasura, dan Yogyakarta, menyebutkan bahwa sebelum ada catatan bangsa Belanda memang tidak tersedia data tentang sejarah Jawa. Sejarah Jawa sebelumnya banyak bersumber dari cerita rakyat yang versinya banyak sekali. Mungkin cerita rakyat itu bersumber dari catatan atau cerita orang-orang yang pernah menjabat sebagai Juru Pamekas Kadipaten, lalu sedikit demi sedikit mengalami kontroversi setelah melewati para pengagum atau penentangnya, yang masih harus ditelaah keakuratannya.  Sunan Kalijaga meninggalkan dua buah karya tulis, yang satu sudah lama beredar sehingga dikenal luas oleh masyarakat, yaitu Serat Dewa Ruci, sedang yang satu lagi belum dikenal luas, yaitu Suluk Linglung. Serat Dewa Ruci telah terkenal sebagai salah satu lakon wayang. Sebagian pengagumnya menganut ajaran Syekh Siti Jenar. Di dalam Suluk Linglung Sunan Kalijaga telah menyinggung pentingnya orang untuk melakukan shalat dan puasa, sedang hal itu tidak ada sama sekali di dalam Serat Dewa Ruci. Tidak ditulis bukan berarti tidak wajibkan, karena isinya memang lebih banyak cerita hikmah pewayangan. Menceritakan Bima yang mawas diri dengan tujuan menyucikan diri agar bisa menyatu dengan khaliqnya dengan langkah-langkah dalam dunia tasawwuf, yaitu takhalli, tahalli dan tajalli yang tidak bertentangan dengan agama tauhid. monotheisme.   Kalau Serat Dewa Ruci telah lama beredar, Suluk Linglung baru mulai dikenal akhir-akhir ini saja. Naskah Suluk Linglung disimpan dalam bungkusan rapi oleh keturunan Sunan Kalijaga. Seorang pegawai Departemen Agama Kudus, Drs.H.M. Khafid Kasri, sekarang Pengasuh Pondok Pesantren Subulus Salam Demak, mendapat petunjuk untuk mencari buku tersebut, dan ternyata disimpan oleh RA Supartini Mursidi, keturunan Sunan Kalijogo ke-14. Buku tersebut ditulis tangan di atas kulit kambing yang terdapat prasasti penulisan tahun 1806 Caka yang berarti 1884 masehi, menggunakan huruf Arab pegon berbahasa Jawa. Pada tahun 1992 buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dengan penerbit Balai Pustaka.  Pada waktu Sunan Kalijaga masih berjatidiri seperti tertulis di dalam Serat Dewa Ruci, murid-murid kinasih-nya masih berfaham manunggaling kawulo Gusti (seperti Sultan Hadiwidjojo, Ki Ageng Pemanahan dan sebagainya), sedang setelah kaffah murid dengan tauhid murni, yaitu seperti Joko Katong ditugaskan untuk mengislamkan Ponorogo, tempat leluhur Sunan Kalijaga berasal. Joko Katong sendiri menurunkan tokoh-tokoh Islam daerah tersebut yang pengaruhnya amat luas sampai sekarang, termasuk Kyai Kasan Besari (guru R Ng Ronggowarsito) atau Ki Ageng Basyariyah, situsnya di Komplek Pemakaman Kuno Desa Sewulan Madiun.  Menurut penulis, Serat Dewa Ruci ditulis pada fase awal Sunan Kalijaga memulai dakwahnya, mencontoh metode dakwah Nabi Muhammad pada periode Makkah. Setelah Sunan Kalijaga melakukan pembinaan iman dan Islamnya, sama seperti periode Madinah oleh Nabi Muhammad SAW, barulah mengajak secara kaffah dengan menulis Suluk Linglung. Di dalamnya mengajarkan puasa dan kewajiban menunaikan shalat sebagaimana shalat yang dicontohkan Rasulullah.   Sebelumnya sebagian orang Jawa memahami bahwa yang dilakukan bukan shalat lima waktu melainkan shalat da'im, tidak shalat lima waktu melainkan shalat da'im dengan membaca Laa illaha ilallah kapan saja dan dimana saja tanpa harus wudhu dan rukuk-sujud.   Ajaran Sunan Kalijaga dalam kitab Suluk Linglung memiliki relevansinya dengan perintah shalat dalam Isra’ Mi’raj yang kita peringati sekarang. Bagi orang Jawa, terutama yang abangan, intrepretasi Sunan Kalijaga tentang Islam selalu menjadi rujukan atau panutan. Maka pesan tersebut patut disosialisasikan. Menjadi tuntunan penting ketika menjelaskan tatacara shalat yang benar.  Sayangnya sepeninggal Sunan Kalijaga, yang tersebar luas di masyarakat Jawa hanya Serat Dewa Ruci. melalui media wayang selama ratusan tahun. Baru tahun belakangan ini Suluk Linglung dipublkasikan ke masyarakat. Untungnya ada ahli warisnya yang masih menyimpan kitabnya. Bisa jadi keterangan kitab tersebut selama itu langka karena ada unsur kesengajaan atau semata-mata kurangnya perhatian kita.    Serat Dewa Ruci terkenal, karena disampaikan dengan pendekatan budaya, melalui medium lakon wayang. Terutama sampai tahun 90-an kesenian wayang masih sangat populer ditonton banyak orang, terutama generasi itu masih sering melihatnya di TVRI. Sekarang generasi sesudahnya tampaknya menganggap ketinggalan zaman, mereka lebih senang menonton hiburan modern seperti film, sinetron dan konser musik Meski di sejumlah daerah dan komunitas masih ditemukan kelompok penggemar wayang.  Kedua buku tersebut benar, tidak ada yang salah. Saling mengisi kekurangan atau kelebihanya. Tentunya sebagai penentu nilai atau rujukan utama adalah karya terakhir atau pamungkas. Semacam wasiat, ditulis di usia puncak kearifannya, setelah mengalami laku dan manis asamnya garam kehidupan.   Suluk Linglung menerangkan pentingnya bersyari’ah serta didasari itu menjalankan ibadah secara suntuk yang mendekatkan diri seorang hamba kepada Tuhannya. Dalam ensiklopedia Wikipedia, suluk berarti melalui penempaan diri seumur hidup dengan melakukan syariat lahiriah sekaligus syariat batiniah demi mencapai kesucian hati untuk mengenal diri dan Tuhan.  Ditegaskan lagi dalam Suluk Sajatining Salat karya Pangeran Sastrawijaya yang wafat tahun 1818 M, seorang pujangga istana yang diangkat oleh Pakubuwono III dan masih keturunan Raden Kajoran Ambalik atau Panembahan Rama, diterangkan untuk menunaikan shalat dengan sempurna harus melalui beberapa tingkatan, antara lain shalat jumungah, yaitu shalat yang dikerjakan dengan seluruh anggota badan sesuai aturan-aturan syari’at yang disebut juga sembah raga.      * Pengasuh Pesantren Budaya Asmaulhusna (SAMBUA) Lasem

Sabtu, 16 Mei 2015

Syekh Siti Jenar Waliullah Tanah Jawi (Nusantara)


Syekh Siti Jenar (829-923 H/1348-1439 C/1426-1517 M), memiliki banyaknama : San Ali (nama kecil pemberian orangtua angkatnya, tapi bukan Hasan AliAnshar seperti banyak ditulis orang); Syekh ‘Abdul Jalil (nama yg diperoleh diMalaka, setelah menjadi ulama penyebar Islam di sana); Syekh Jabaranta (nama ygdikenal di Palembang, Sumatera dan daratan Malaka); Prabu Satmata (Gusti ygnampak oleh mata; nama yg muncul dari keadaan kasyf atau mabuk spiritual; juganama yg diperkenalkan kepada murid dan pengikutnya);Syekh Lemah Abang atauLemah Bang (gelar yg diberikan masyarakat Lemah Abang, suatu komunitas dankampung model yg dipelopori Syekh Siti Jenar; melawan hegemoni kerajaan.  Wajar jika orang Cirebon tidak mengenal nama Syekh Siti Jenar, sebab di Cirebonnama yg populer adalah Syekh Lemah Abang. Syekh Siti Jenar (nama filosofis ygmengambarkan ajarannya tentang sangkan-paran, bahwa manusia secara biologishanya diciptakan dari sekedar 5 tanah merah dan selebihnya adalah roh Allah;juga nama yg dilekatkan oleh Sunan Bonang ketika memperkenalkannya kepada DewanWali, pada kehadirannya di Jawa Tengah/Demak; juga nama Babad Cirebon); SyekhNurjati atau Pangeran Panjunan atau Sunan Sasmita (nama dalam Babad Cirebon,S.Z. Hadisutjipto); Syekh Siti Bang, serta Syekh Siti Brit; Syekh Siti Luhung(nama-nama yg diberikan masyarakat Jawa Tengahan); Sunan Kajenar (dalam sastraIslam-Jawa versi Surakarta baru, era R.Ng. Ranggawarsita [1802-1873]); SyekhWali Lanang Sejati; Syekh Jati Mulya; danSyekh Sunyata Jatimurti Susuhunan ingLemah Abang. Siti Jenar lebih menunjukkan sebagai simbolisme ajaran utama Syekh Siti Jenaryakni ilmu kasampurnan, ilmu sangkan-paran ing dumadi, asal muasal kejadianmanusia, secara biologis diciptakan dari tanah merah saja yg berfungsi sebagaiwadah (tempat) persemayaman roh selama di dunia ini. Sehingga jasad manusiatidak kekal akan membusuk kembali ketanah. Selebihnya adalah roh Allah, ygsetelah kemusnaan raganya akan menyatu kembali dengan keabadian. Ia di sebutmanungsa sebagai bentuk “manunggaling rasa” (menyatu rasa ke dalam Tuhan). Dan karena surga serta neraka itu adalah untuk derajad fisik maka keberadaansurga dan neraka adalah di dunia ini, sesuai pernyataan populer bahwa duniaadalah penjara bagi orang mukmin. Menurut Syekh Siti Jenar, dunia adalah nerakabagi orang yg menyatu-padu dgn Tuhan. Setelah meninggal ia terbebas daribelenggu wadag-nya dan bebas bersatu dgn Tuhan. Di dunia manunggalnya hamba dgnTuhan sering terhalang oleh badan biologis yg disertai nafsu-nafsunya. Itulahinti makna nama Syekh Siti Jenar. Asal Usul Syekh Siti Jenar  Syekh Siti Jenar lahir sekitar tahun 829 H/1348 C/1426 M (Serat She Siti JenarKi Sasrawijaya; Atja, Purwaka Tjaruban Nagari (Sedjarah Muladjadi KeradjanTjirebon), Ikatan Karyawan Museum, Jakarta, 1972; P.S. Sulendraningrat, PurwakaTjaruban Nagari, Bhatara, Jakarta, 1972; H. Boedenani, Sejarah Sriwijaya,Terate, Bandung, 1976; Agus Sunyoto, Suluk Abdul Jalil Perjalanan Rohani SyaikhSyekh Siti Jenar dan Sang Pembaharu, LkiS, yogyakarta, 2003-2004; SartonoKartodirjo dkk, [i]Sejarah Nasional Indonesia, Depdikbud, Jakarta, 1976; BabadBanten; Olthof, W.L., Babad Tanah Djawi. In Proza Javaansche Geschiedenis,‘s-Gravenhage, M.Nijhoff, 1941; raffles, Th.S., The History of Java, 2 vol,1817), dilingkungan Pakuwuan Caruban, pusat kota Caruban larang waktu itu, ygsekarang lebih dikenal sebagai Astana japura, sebelah tenggara Cirebon. Suatulingkungan yg multi-etnis, multi-bahasa dan sebagai titik temu kebudayaan sertaperadaban berbagai suku. Lemah Abang sekarang diabadikan menjadi desa dan sebuahkecamatan di kabupaten cirebon dan kecamatan Lemah Abang dimekarkan menjadikecamatan Lemah Abang, kecamatan Japura, kecamatan Sedong, kecamatan Greged,kecamatan Susukan Lebak. Selama ini, silsilah Syekh Siti Jenar masih sangat kabur. Kekurangjelasanasal-usul ini juga sama dgn kegelapan tahun kehidupan Syekh Siti Jenar sebagaimanusia sejarah. Pengaburan tentang silsilah, keluarga dan ajaran Beliau yg dilakukan olehpenguasa muslim pada abad ke-16 hingga akhir abad ke-17. Penguasa merasa perluuntuk “mengubur” segala yg berbau Syekh Siti Jenar akibat popularitasnya dimasyarakat yg mengalahkan dewan ulama serta ajaran resmi yg diakui KerajaanIslam waktu itu. Hal ini kemudian menjadi latar belakang munculnya kisah bahwaSyekh Siti Jenar berasal dari cacing. Dalam sebuah naskah klasik, cerita yg masih sangat populer tersebut dibantahsecara tegas, “Wondene kacariyos yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded,sajatosipun inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing dhusunLemahbang.” [Adapun diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti Jenar) itu berasaldari cacing, itu salah. Sebenarnya ia memang manusia berdarah kecil saja (rakyatjelata), bertempat tinggal di desa Lemah Abang]…. Jadi Syekh Siti Jenar adalah manusia lumrah hanya memang ia walau berasal darikalangan bangsawan setelah kembali ke Jawa menempuh hidup sebagai petani, ygsaat itu, dipandang sebagai rakyat kecil oleh struktur budaya Jawa, disampingsebagai wali penyebar Islam di Tanah Jawa. Syekh Siti Jenar yg memiliki nama kecil San Ali dan kemudian dikenal sebagaiSyekh ‘Abdul Jalil adalah putra seorang ulama asal Malaka,Syekh Datuk Shalehbin Syekh ‘Isa ‘Alawi bin Ahmadsyah Jamaludin Husain bin Syekh ‘AbdullahKhannuddin bin Syekh Sayid ‘Abdul Malikal-Qazam. Maulana ‘Abdullah Khannuddinadalah putra Syekh ‘Abdul Malik atau Asamat Khan. Nama terakhir ini adalahseorang Syekh kalangan ‘Alawi kesohor di Ahmadabad, India, yg berasal dariHandramaut. Qazam adalah sebuah distrik berdekatan dgn kota Tarim di Hadramaut. Syekh ‘Abdul Malik adalah putra Syekh ‘Alawi, salah satu keluarga utamaketurunan ulama terkenal Syekh ‘Isa al-Muhajir al-Bashari al-‘Alawi, yg semuaketurunannya bertebaran ke berbagai pelosok dunia, menyiarkan agama Islam.Syekh ‘Abdul Malik adalah penyebar agama Islam yg bersama keluarganya pindahdari Tarim ke India. Jika diurut keatas, silsilah Syekh Siti Jenar berpuncakpada Sayidina Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah. Dari silsilahyg ada, diketahui pula bahwa ada dua kakek buyutnya yg menjadi mursyid thariqahSyathariyah di Gujarat yg sangat dihormati, yakni Syekh Abdullah Khannuddin danSyekh Ahmadsyah Jalaluddin. Ahmadsyah Jalaluddin setelah dewasa pindah keKamboja dan menjadi penyebar agama Islam di sana. Adapun Syekh Maulana ‘sa atau Syekh Datuk ‘Isa putra Syekh Ahmadsyah kemudianbermukim di Malaka. Syekh Maulana ‘Isa memiliki dua orang putra, yaitu SyekhDatuk Ahamad dan Syekh Datuk Shaleh. Ayah Syekh Siti Jenar adalah Syekh DatukShaleh adalah ulama sunni asal Malaka yg kemudian menetap di Cirebon karenaancaman politik di Kesultanan Malaka yg sedang dilanda kemelut kekuasaan padaakhir tahun 1424 M, masa transisi kekuasaan Sultan Muhammad Iskandar Syahkepada Sultan Mudzaffar Syah. Sumber-sumber Malaka dan Palembang menyebut namaSyekh Siti Jenar dgn sebutan Syekh Jabaranta dan Syekh ‘Abdul Jalil. Pada akhir tahun 1425, Syekh Datuk Shaleh beserta istrinya sampai di Cirebondan saat itu, Syekh Siti Jenar masih berada dalam kandungan ibunya 3 bulan. DiTanah Caruban ini, sambil berdagang Syekh Datuk Shaleh memperkuat penyebaranIslam yg sudah beberapa lama tersiar di seantero bumi Caruban, besama-sama dgnulama kenamaan Syekh Datuk Kahfi, putra Syehk Datuk Ahmad. Namun, baru duabulan di Caruban, pada tahun awal tahun 1426, Syekh Datuk Shaleh wafat. Sejak itulah San Ali atau Syekh Siti Jenar kecil diasuh oleh Ki Danusela sertapenasihatnya, Ki Samadullah atau Pangeran Walangsungsang yg sedang nyantri diCirebon, dibawah asuhan Syekh datuk Kahfi. Jadi walaupun San Ali adalah keturunan ulama Malaka, dan lebih jauh lagiketurunan Arab, namun sejak kecil lingkungan hidupnya adalah kultur Cirebon ygsaat itu menjadi sebuah kota multikultur, heterogen dan sebagai basisantarlintas perdagangan dunia waktu itu. Saat itu Cirebon dgn Padepokan Giri Amparan Jatinya yg diasuh oleh seorangulama asal Makkah dan Malaka, Syekh Datuk Kahfi, telah mampu menjadi salah satupusat pengajaran Islam, dalam bidang fiqih dan ilmu ‘alat, serta tasawuf.Sampai usia 20 tahun, San Ali mempelajari berbagai bidang agama Islam dgnsepenuh hati, disertai dgn pendidikan otodidak bidang spiritual. Padepokan Giri Amparan Jati Setelah diasuh oleh Ki Danusela samapai usia 5 tahun, pada sekitar tahun 1431M, Syekh Siti Jenar kecil (San Ali) diserahkan kepada Syekh Datuk Kahfi,pengasuh Pedepokan Giri Amparan Jati, agar dididik agama Islam yg berpusat diCirebon oleh Kerajaan Sunda di sebut sebagai musu(h) alit [musuh halus]  Di Padepokan Giri Amparan Jati ini, San Ali menyelesaikan berbagai pelajarankeagamaan, terutama nahwu, sharaf, balaghah, ilmu tafsir, musthalah hadist,ushul fiqih dan manthiq.  Ia menjadi santri generasi kedua. Sedang yg akan menjadi santri generasi ketigaadalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Syarif Hidayatullah barudatang ke Cirebon, bersamaan dgn pulangnya Syekh Siti Jenar dari perantauannyadi Timur Tengah sekitar tahun 1463, dalam status sebagai siswa Padepokan GiriAmparan Jati, dgn usia sekitar 17-an tahun. Pada tahun 1446 M, setelah 15 tahun penuh menimba ilmu di Padepokan AmparanJati, ia bertekad untuk keluar pondok dan mulai berniat untuk mendalamikerohanian (sufi). Sebagai titik pijaknya, ia bertekad untuk mencari“sangkan-paran” dirinya. Tujuan pertmanya adalah Pajajaran yg dipenuhi oleh para pertapa dan ahli hikmahHindu-Budha. Di Pajajaran, Syekh Siti Jenar mempelajari kitab Catur Viphalawarisan Prabu Kertawijaya Majapahit. Inti dari kitab Catur Viphala ini mencakupempat pokok laku utama. Pertama, nihsprha, adalah suatu keadaan di mana tidak adal lagi sesuatu ygingin dicapai manusia. Kedua, nirhana, yaitu seseorang tidak lagi merasakanmemiliki badan dan karenanya tidak ada lagi tujuan. Ketiga, niskala adalahproses rohani tinggi, “bersatu” dan melebur (fana’) dgn Dia Yang Hampa, DiaYang Tak Terbayangkan, Tak Terpikirkan, Tak Terbandingkan. Sehingga dalamkondisi (hal) ini, “aku” menyatu dgn “Aku”. Dan keempat, sebagai kesudahan dariniskala adalah nirasraya, suatu keadaan jiwa yg meninggalkan niskala danmelebur ke Parama-Laukika (fana’ fi al-fana’), yakni dimensi tertinggi yg bebasdari segala bentuk keadaan, tak mempunyai ciri-ciri dan mengatasi “Aku”. Dari Pajajaran San Ali melanjutkan pengembaraannya menuju Palembang, menemuiAria Damar, seorang adipati, sekaligus pengamal sufi-kebatinan, santri MaulanaIbrahim Samarkandi. Pada masa tuanya, Aria Damar bermukim di tepi sungai Ogan,Kampung Pedamaran. Diperkirakan Syekh Siti Jenar berguru kepada Aria Damar antara tahun 1448-1450M. bersama Aria Abdillah ini, San Ali mempelajari pengetahuan tentang hakikatketunggalan alam semesta yg dijabarkan dari konsep “nurun ‘ala nur” (cahayaMaha Cahaya), atau yg kemudian dikenal sebagai kosmologi emanasi. Dari Palembang, San Ali melanjutkan perjalanan ke Malaka dan banyak bergaul dgnpara bangsawan suku Tamil maupun Malayu. Dari hubungan baiknya itu, membawa SanAli untuk memasuki dunia bisnis dgn menjadi saudagar emas dan barang kelontong.Pergaulan di dunia bisnis tsb dimanfaatkan oleh San Ali untuk mempelajariberbagai karakter nafsu manusia, sekaligus untuk menguji laku zuhudnya ditengahgelimang harta. Selain menjadi saudagar, Syekh Siti jenar juga menyiarkan agamaIslam yg oleh masyarakat setempat diberi gelar Syekh jabaranta. Di Malaka inipula, ia bertemu dgn Datuk Musa, putra Syekh Datuk Ahmad. Dari uwaknya ini,Syekh Datuk Ahmad, San Ali dianugerahi nama keluarga dan nama ke-ulama-an SyekhDatuk ‘Abdul Jalil. Dari perenungannya mengenai dunia nafsu manusia, hal ini membawa Syekh SitiJenar menuai keberhasilan menaklukkan tujuh hijab, yg menjadi penghalang utamapendakian rohani seorang salik (pencari kebenaran). Tujuh hijab itu adalahlembah kasal (kemalasan naluri dan rohani manusia); jurang futur (nafsu menelanmakhluk/orang lain); gurun malal (sikap mudah berputus asa dalam menempuh jalanrohani); gurun riya’ (bangga rohani); rimba sum’ah (pamer rohani); samudera‘ujub (kesombongan intelektual dan kesombongan ragawi); dan benteng hajbun(penghalang akal dan nurani). Pencerahan Rohani di Baghdad Setelah mengetahui bahwa dirinya merupakan salah satu dari keluarga besar ahlulbait (keturunan Rasulullah), Syekh Siti Jenar semakin memiliki keinginan kuatsegera pergi ke Timur Tengah terutama pusat kota suci Makkah. Dalam perjalanan ini, dari pembicaraan mengenai hakikat sufi bersama ulamaMalaka asal Baghdad Ahmad al-Mubasyarah al-Tawalud di sepanjang perjalanan.Syekh Siti Jenar mampu menyimpan satu perbendaharaan baru, bagi perjalananrohaninya yaitu “ke-Esaan af’al Allah”, yakni kesadaran bahwa setiap gerak dansegala peristiwa yg tergelar di alam semesta ini, baik yg terlihat maupun yg tidakterlihat pada hakikatnya adalah af’al Allah. Ini menambah semangatnya untukmengetahui dan merasakan langsung bagaimana af’al Allahitu optimal bekerjadalam dirinya. Inilah pangkal pandangan yg dikemudian hari memunculkan tuduhan dari DewanWali, bahwa Syekh Siti Jenar menganut paham Jabariyah. Padahal bukan itupemahaman yg dialami dan dirasakan Syekh Siti Jenar. Bukan pada dimensiperbuatan alam atau manusianya sebagai tolak titik pandang akan tetapi justruperbuatan Allah melalui iradah dan quradah-NYA yg bekerja melalui diri manusia,sebagai khalifah-NYA di alam lahir. Ia juga sampai pada suatu kesadaran bahwasemua yg nampak ada dan memiliki nama, pada hakikatnya hanya memiliki satusumber nama, yakni Dia Yang Wujud dari segala yg maujud. Sesampainya di Baghdad, ia menumpang di rumah keluarga besar Ahmad al-Tawalud.Disinilah cakrawala pengetahuan sufinya diasah tajam. Sebab di keluargaal-Tawalud tersedia banyak kitab-kitab ma’rifat dari para sufi kenamaan. Semuakitab itu adalah peninggalan kakek al-Tawalud, Syekh ‘Abdul Mubdi’ al-Baghdadi.Di Irak ini pula, Syekh Siti Jenar bersentuhan dgn paham Syi’ah Ja’fariyyah, ygdi kenal sebagai madzhab ahl al-bayt. Syekh Siti Jenar membaca dan mempelajari dgn Baik tradisi sufi darial-Thawasinnya al-Hallaj (858-922), al-Bushtamii (w.874), Kitab al-Shidq-nyaal-Kharaj (w.899), Kitab al-Ta’aruf al-Kalabadzi (w.995), Risalah-nyaal-Qusyairi (w.1074), futuhat al-Makkiyah dan Fushush al-Hikam-nya Ibnu ‘Arabi(1165-1240), Ihya’ Ulum al-Din dan kitab-kitab tasawuf al-Ghazali (w.1111), danal-Jili (w.1428). secara kebetulan periode al-jili meninggal, Syekh Siti Jenarsudah berusia dua tahun. Sehingga saat itu pemikiran-permikiran al-Jili,merupakan hal yg masih sangat baru bagi komunitas Islam Indonesia. Dan sebenarnya Syekh Siti Jenar-lah yg pertama kali mengusung gagasan al-Hallajdan terutama al-Jili ke Jawa. Sementara itu para wali anggota Dewan Walimenyebarluaskan ajaran Islam syar’i madzhabi yg ketat. Sebagian memangmengajarkan tasawuf, namun tasawuf tarekati, yg kebanyakkan beralur pada pahamImam Ghazali. Sayangnya, Syekh Siti Jenar tidak banyak menuliskanajaran-ajarannya karena kesibukannya menyebarkan gagasan melalui lisan keberbagai pelosok Tanah Jawa. Dalam catatan sastra suluk Jawa hanya ada 3 kitab karyaSyekh Siti Jenar; Talmisan, Musakhaf (al-Mukasysyaf) dan Balal Mubarak.Masyarakat yg dibangunnya nanti dikenal sebagai komunitas Lemah Abang. Dari sekian banyak kitab sufi yg dibaca dan dipahaminya, yg paling berkesanpada Syekh Siti Jenar adalah kitab Haqiqat al-Haqa’iq, al-Manazil al-Alahiyahdan al-Insan al-Kamil fi Ma’rifat al-Awakhiri wa al-Awamil (Manusia Sempurnadalam Pengetahuan tenatang sesuatu yg pertama dan terakhir). Ketiga kitabtersebut, semuanya adalah puncak dari ulama sufi Syekh ‘Abdul Karim al-Jili. Terutama kitab al-Insan al-Kamil, Syekh Siti Jenar kelak sekembalinya ke Jawamenyebarkan ajaran dan pandangan mengenai ilmu sangkan-paran sebagai titikpangkal paham kemanuggalannya. Konsep-konsep pamor, jumbuh dan manunggal dalamteologi-sufi Syekh Siti Jenar dipengaruhi oleh paham-paham puncak mistikal-Hallaj dan al-Jili, disamping itu karena proses pencarian spiritualnya ygmemiliki ujung pemahaman yg mirip dgn secara praktis/’amali-al-Hallaj; dansecara filosofis mirip dgn al-Jili dan Ibnu ‘Arabi. Syekh Siti Jenar menilai bahwa ungkapan-ungkapan yg digunakan al-Jili sangatsederhana, lugas, gampang dipahami namun tetap mendalam. Yg terpenting,memiliki banyak kemiripan dgn pengalaman rohani yg sudah dilewatkannya, sertayg akan ditempuhnya. Pada akhirnya nanti, sekembalinya ke Tanah Jawa, pengaruhketiga kitab itu akan nampak nyata, dalam berbagai ungkapan mistik, ajaranserta khotbah-khotbahnya, yg banyak memunculkan guncangan-guncangan keagamaandan politik di Jawa. Syekh Siti Jenar banyak meluangkan waktu mengikuti dan mendengarkankonser-konser musik sufi yg digelar diberbagai sama’ khana. Sama’ khana adalahrumah-rumah tempat para sufi mendengarkan musik spiritual dan membiarkandirinya hanyut dalam ekstase (wajd). Sama’ khana mulai bertumbuhan di Baghdadsejak abad ke-9 (Schimmel; 1986, hlm. 185). Pada masa itu grup musik sufi ygterkenal adalah al-Qawwal dgn penyanyi sufinya ‘Abdul Warid al-Wajd. Berbagai pengalaman spiritual dilaluinya di Baghdad sampai pada tingkatan fawa’id(memancarnya potensi pemahaman roh karena hijab yg menyelubunginya telahtersingkap. Dgn ini seseorang akan menjadi berbeda dgn umumnya manusia); danlawami’(mengejawantahnya cahaya rohani akibat tersingkapnya fawa’id), tajaliyatmelalui Roh al-haqq dan zawaid (terlimpahnya cahaya Ilahi ke dalam kalbu ygmembuat seluruh rohaninya tercerahkan). Ia mengalami berbagai kasyf danberbagai penyingkapan hijab dari nafsu-nafsunya. Disinilah Syekh Siti Jenarmendapatkan kenyataan memadukan pengalaman sufi dari kitab-kitab al-Hallaj,Ibnu ‘Arabi dan al-Jili. Bahkan setiap kali ia melantunkan dzikir dikedalaman lubuk hatinya dgnsendirinya ia merasakan denting dzikir dan menangkap suara dzikir yg berbunyianeh, Subhani, alhamdu li, la ilaha illa ana wa ana al-akbar, fa’budni(mahasuci aku, segala puji untukku, tiada tuhan selain aku, maha besar aku,sembahlah aku). Walaupun telinganya mendengarkan orang di sekitarnya membacadzikir Subhana Allah, al-hamduli Allahi, la ilaha illa Allah, Allahu Akbar,fa’buduhu, namun suara yg di dengar lubuk hatinya adalah dzikir nafsi, sebagaicerminan hasil man ‘arafa bafsahu faqad ‘arafa Rabbahu tersebut. Sampai disini, Syekh Siti Jenar semakin memahami makna hadist Rasulullah“al-Insan sirriwa ana sirruhu” (Manusia adalah Rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya). Sebenarnya inti ajaran Syekh Siti Jenar sama dgn ajaran sufi ‘Abdul Qadiral-Jilani (w.1165), Ibnu ‘Arabi (560/1165-638-1240), Ma’ruf al-Karkhi, danal-Jili. Hanya saja ketiga tokoh tsb mengalami nasib yg baik dalam artian,ajarannya tidak dipolitisasi, sehingga dalam kehidupannya di dunia tidak pernahmengalami intimidasi dan kekerasan sebagai korban politik dan menemui akhirhayat secara biasa.

Ajaran Sufisme Sunan Kalijogo dalam Pewayangan


Ajaran Sufistik Sunan Kalijaga dalam Pewayangan Yogyakarta, NU Online Wakil Ketua PWNU DIY M. Jadul Maula berpendapat bahwa Sunan Kalijaga adalah Sufi Dunia yang senantiasa mengajak pada Tuhan melalui dirinya sendiri, Man ‘arafa nafsah, ‘arafa Rabbah (siapa telah mengenal dir sendiri maka telah mengenal Tuhannya).  Hal tersebut disampaikannya dalam Seminar Nasional bertajuk “Sunan Kalijaga dan Kesatuan Agama-Ilmu-Seni” yang diadakan oleh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kamis (10/10), di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga, Jl. Laksda Adi Sucipto. Sunan Kalijaga yang dikenal menyisipkan makna-makna sufistik pada lakon-lakon Wayang sebagai dasar ajarannya di setiap pementasan. Sebagai contoh adalah Lakon Jumenengan Parikesit. Jumenengan Parikesit merupakan intisari atau ringkasan ajaran Sunan Kalijaga, juga sekaligus sebagai piwulang atau nasehat Sunan Kalijaga kepada Sutawijaya sebelum mendirikan Kerajaan Mataram. Meskipun sebenarnya, ajaran tersebut tidak hanya ditujukan kepada para Raja, melainkan kepada seluruh masyarakat. Diceritakan bahwa Parikesit waktu itu akan dinobatkan sebagai raja di Hastinapura. Namun, agar jumeneng (tegak) sebagai raja, ada tiga syarat yang harus dilaluinya. Ketiga syarat tersebut adalah, dilenggahi atau dilantik oleh Wasi Jolodoro, mendatangkan Punokawan, dan harus punya senjata Keris Luksongo. “Namun Parikesit di situ bukanlah calon raja sebenarnya, melainkan ia hanya sebagai pralambang dari jati diri kita. Karakter atau jati diri kita ini sudah kuat atau tidak?” ujar Kang Jadul, sapaan akrab budayawan ini. Karakter atau jati diri yang kuat merupakan bekal paling penting dalam kehidupan seseorang. Ketiga syarat yang diajukan kepada Parikesit tersebut merupakan gambaran langkah yang harus ditempuh seseorang agar memperoleh karakter atau jati diri yang kuat agar dapat menyatu dengan Tuhan. Syarat pertama adalah dilenggahi Wasi Jolodoro. Wasi Jolodoro adalah Kakak dari Kresna. Ini merupakan lambang dari batin yang sudah disucikan di Grojokan Sewu. Oleh karenanya ia berwarna putih, lantaran kesucian batin yang dimilikinya. Menurut Kang Jadul, batin yang suci atau bening merupakan landasan utama yang harus kuat, dan tokoh-tokoh di dalam Wayang merupakan gambaran dari 10 unsur yang ada di dalam diri manusia. Unsur pertama hingga kelima adalah lima panca indra yang digambarkan melalui Pandawa Lima (Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa). Kelima unsur tersebut tidak bisa menang jika tidak didukung oleh lima unsur lain yang merupakan unsur keenam hingga kesepuluh.  Pertama, Baladewa, sebagai lambang dari batin. Kedua, Kresna, yang memiliki senjata Cakra yang bisa memutarbalikkan fakta. Kresna tersebut merupakan gambaran dari pikiran kita yang bisa memutarbalikkan fakta. Ketiga, Sembada, Istri Arjuna. Ini merupakan lambang dari perasaan atau kelembutan, dimana Sembada memiliki kelembutan perasaan yang luar biasa. Keempat, Karno, yang merupakan lambang keseimbangan, dan terakhir adalah ruh. “Kesepuluh unsur tersebut harus bersambung dengan baik agar menghasilkan batin yang jernih, karena batin yang jernih akan menghasilkan pikiran yang jernih, dan sebaliknya, batin yang keruh akan menghasilkan pikiran yang jahat,” ungkap pengasuh Pesantren Kaliopak Bantul tersebut. “Ini sebenarnya merupakan konsep kemanusiaan yang utuh. Instrumen untuk menselaraskan bukanlah akal, apalagi perasaan, melainkan batin,” tambahnya. Syarat kedua yaitu mendatangkan Punokawan. Punokawan yang berjumlah empat, yakni Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong merupakan simbol dari empat Malaikat yang terdapat pada diri manusia, yakni Malaikat Jibril, Mikail, Isrofil, dan Izroil. Punokawan disini merupakan gambaran dari fungsi tugas-tugasnya Malaikat, yaitu mengawasi manusia. Adapun syarat ketiga adalah Keris Luksongo. Songo yang merupakan bahasa Jawa dari Sembilan adalah hasil dari delapan ditambah satu. Maksudnya, delapan tersebut adalah empat unsur alam yang terdapat dalam diri manusia, yakni udara, tanah, air, dan api, yang kemudian ditambahkan empat benda langit. Nantinya dengan kedelapan unsur tersebut akan dapat mengantarkan pada satu, Tuhan. “Dari sini dapat dipastikan bahwa jika seseorang memiliki hablun minallah (hubungan dengan Allah) dan hablun minal ‘alam (hubungan dengan alam) yang baik, maka tentu akan memiliki hablun minannas (hubungan dengan sesama manusia) yang baik pula. Itulah sebenarnya ajaran struktur dasar Sunan Kalijaga pada orang Jawa (khususnya), dan Nusantara (umumnya),” papar Kang Jadul panjang lebar. Respon politik kita saat ini, lanjutnya, sudah keluar dari nilai ini alias melupakan alam. Padahal hal tersebutlah yang menguatkan Kerajaan Mataram dapat bertahan sampai sekarang, yakni selama 500 tahun. Tentu tidak mudah membuat sebuah kerajaan agar bertahan selama itu. Ajaran inilah yang harus dimunculkan kembali agar bisa melindungi tanah Jawa dan Nusantara, yakni keseimbangan antara mikro kosmos dengan makro kosmos. (Dwi Khoirotun Nisa’/Mahbib)

Suluk Linglung Sunan Kalijogo


Ajaran Makrifat Sunan Kalijaga dalam Suluk Linglung Pengertian dan Sejarah Suluk Linglung Sunan Kalijaga Secara etimologi suluk berarti mistis, atau jalan menuju kesempurnaan batin. Di samping pengertian tersebut dalam perspektif lain suluk diartikan sebagai khalwat, pengasingan diri dan ilmu-ilmu tentang tasawuf atau mistis. Dalam sastra Jawa suluk berarti ajaran, falsafah untuk mencari hubungan dan persatuan manusia dengan Tuhan, sedangkan dalam seni pendalangan suluk dapat diartikan sebagai nyanyian dalang untuk menimbulkan suasana tertentu. Dalam komunitas tarekat suluk diartikan sebagai perjalanan untuk membawa seseorang agar dekat dengan Tuhan sedangkan orang yang melakukan perjalanan tarekat dinamakan salik. Dalam tarekat pengertian suluk cenderung bersifat mistis dan aplikasi ritual tasawuf untuk mencapai kehidupan rohani. Linglung merupakan struktur bahasa Jawa yang artinya "bingung". Bingung di sini diartikan ketidakpastian, atau dapat diartikan sebagai kumpulan dari cerita, aplikasi ritual tasawuf Sunan Kalijaga ketika ia mengalami kebingungan dalam mencapai hakekat kehidupan. Suluk dalam Jawa adalah ajaran filsafat untuk mencari hubungan dan persatuan manusia dengan Tuhan, suluk merupakan salah satu bentuk ajaran yang termanifestasikan dalam sebuah kitab atau karya. Suluk Linglung Sunan Kalijaga merupakan salah satu dari sekian ajaran filasafat yang digubah oleh Iman Anom. Suluk Linglung merupakan salah satu karya sastra Sunan Kalijaga yang sampai saat ini masih jarang ditemukan diliteratur Jawa. Buku ini merupakan terjemahan dari kitab kuno warisan dari sepuh Kadilangu Demak, R.Ng. Noto Subroto kepada ibu R.A.Y Supratini Mursidi, yang keduanya adalah anak cucu Sunan Kalijaga yang ke-13 dan 14.39 Kitab kuno yang diberi nama Suluk Linglung ini memuat tentang pengobatan dengan menggunakan berbagai ramuan tradisional, azimah yang berbentuk rajah huruf arab serta memakai isim, berbagai macam do'a. Disamping itu suluk merupakan sebuah goresan dalam bentuk bibliografi dari proses kehidupan batin seseorang atau tokoh. Buku kuno ini menggunakan simbol-simbol prasastri penulisan ngrasa sirna sarira aji yang berarti bermakna 1806 caka bertepatan dengan tahun 1884 Masehi. Buku kuno ini ditulis diatas kertas yang dibuat dari serat kulit hewan yang merupakan transliterasi dari kitab Duryat yang diwariskan secara turun temurun oleh keluarga Sunan Kalijaga. Kondisi Teks dan Kandungan Ajaran Suluk Linglung Sunan Kalijaga Tentang Makrifat. Dalam kehidupan tasawuf, seorang yang ingin menyempurnakan dirinya harus melalui beberapa tahap-tahap dalam perjalanan spiritualnya. Dimana tahap paling dasar adalah syari'at, yaitu tahap pelatihan badan agar dicapai kedisiplinan dan kesegaran jasmani. Dalam syari'at hubungan antar manusia dijalin menjadi umat, syariat dimaksudkan untuk membawa  seseorang ke dalam sebuah bangunan kolektif, yang disebut umat, bangunan persaudaraan berdasarkan kepercayaan atau agama yang sama. Begitu juga yang diajarkan dan dilaksanakan oleh Sunan Kalijaga di dalam kitab Suluk Linglung, ia sangat menekankan pentingnya menjalankan syari'at Islam seperti yang diajarkan oleh Rasulullah saw, termasuk sholat lima waktu, puasa ramadhan, membayar zakat dan menjalankan ibadah haji. Agar dapat menjalankan ajaran Islam yang sempurna dan sungguh-sungguh (kaffah), baginya harus melalui berbagai tirakat dan perenungan diri yang sungguh-sungguh pula. Dengan begitu manusia akan dapat mengerti makna hidup sejati dan mencapai makrifat yang diajarkan Sunan Kalijaga dalam suluk tersebut, adalah sebagai berikut; Pertama, Brahmara Ngisep Sari Pupuh Dhandanggula (Kumbang Menghisap Madu). Dalam teks aslinya, "pawartane padhita linuwih, ingkang sampun saget sami pejah, pejah sajroning uripe, sanget kepenginipun, pawartane kang sampun urip, marma ngelampahi kesah, tan uningeng luput, anderpati tan katedah, warta ingkang kagem para nabi wali, mila wangsul kewala". Artinya: "menceritakan tentang seorang alim ulama' yang cerdik dan pandai yang sudah bisa merasakan mati, mati dalam hidup yang mempunyai keinginan besar untuk memperoleh petunjuk dari seorang yang sudah menemukan hakekat kehidupan dan perjalanan untuk tidak memperdulikan dampak yang terjadi. Beliau bernafsu untuk mendapatkan petunjuk, petunjuk yang dipegang oleh para nabi dan wali, itulah tujuan yang diharapkan semata-mata". Pada bagian ini mengupas tentang Sunan Kalijaga berhasrat besar untuk mencari ilmu yang menjadi pegangan para Nabi dan wali. Dengan  kondisi bimbang dan tidak menentu Sunan Kalijaga selalu berusaha untuk mengabdi dan mencari petunjuk, salah satu usaha yang ditempuh adalah dengan mengendalikan segala hawa nafsunya yang selanjutnya berserah diri kepada Allah, yang diibaratkan sebagai kumbang ingin mengisap madu / sari kembang. Dalam hal ini Sunan Kalijaga berusaha untuk mengendalikan segala hawa nafsunya. Rendah hati dalam bersikap, prihatin, tidak bermewah-mewah (memikirkan kehidupan dunia), membunuh segala nafsu jiwa raga dan berserah diri pada Allah. Maksud mengalirnya madu adalah orang yang diberi kemuliaan oleh suksma. Dia tetap kokoh dalam budi. Arti menjalankan tapa adalah menyakiti badan dari waktu muda sampai tua, masuk hutan yang sunyi, masuk gua bersemadi di tempat yang sepi, membunuh jiwa raga. Dengan begitu bila mendapat hidayah Ilahi, maka pengetahuan tentang Allah akan sampai kepadanya, begitulah yang dilakukan Sunan Kalijaga. Manfaat orang yang suka prihatin, seluruh cita-citanya akan dikabulkan Allah, apabila belajar ilmu akan mudah paham, apabila mencari rizki akan mudah didapatkan dan apabila melakukan sesuatu pekerjaan akan cepat selesai. Demikian tapanya para ulama dan wali Allah yang telah sempurna tekadnya. Bila orang ingin seperti itu hendaklah jiwa raga disiksa, raga selalu disakiti lupakan tidur. Bila ingin tahu tentang asal mulanya, jasadnya disiksa dengan maksud agar menyatu pada suksma. Dalam teksnya dijelaskan: "……Dennya amrih wekasing urip, dadya napsu ingobat kabanjur kalantur, eca dhahar lawan nendra, saking tyas awon poerang lan napsu neki,…….     Artinya "………berbagai usaha ditempuh agar akhir hidupnya nanti, mampu mengatasi atau mengobati nafsunya, jangan sampai terlanjur nafsunya, puas makan dan tidur sebab hatinya kalah perang dengan nafsunya". Kedua, Kasmaran Branta Pupuh Asmara Dana (rindu kasih sayang pupuh asmara dana) pada bagian ini mengupas tentang Sunan Kalijaga berguru kepada Sunan Bonang, serta wejangan-wejangan (petunjuk-petunjuk) yang diterimanya. Untuk memperkuat ketajaman batin, maka Sunan Kalijaga mengajarkan berbagai jenis tapa agar diikuti para murid-muridnya. Sunan Kalijaga sendiri pernah menjadi petapa ketika berguru kepada Sunan Bonang. Pertama ia bertapa menunggui tongkat Sunan Bonang dan kedua bertapa ngidang menyamar menjadi kijang, makan daun-daunan dan tinggal di hutan belantara. Dalam teksnya dijelaskan: Pada bait ketiga " wonten setengah wanadri, gennya ingkang gurdagurda. Pan sawarsa ing lamine, anulya kinene ngaluwat, pinendhen madyeng wana, setahun nulya dinudhuk, dateng jeng suhunan benang" Artinya ", berada ditengah hutan belantara, tempat tumbuhnya pohon gurda yang banyak sekali, dengan tenggang waktu setahun lamanya, kemudian disuruh "ngaluwat" ditanam ditengah hutan. Setahun kemudian dibongkar oleh kanjeng Sunan Bonang" Dan pada bait ketujuh belas, " pan angidang lampah neki, awor lan kidang manjangan, atenapi yen asare pan aturu tumut, lir kadya sutaning kidang" Artinya, "untuk menjalankan laku kijang, berbaur dengan kijang menjangan, bilamana ingin tidur, ia mengikuti cara tidur terbalik, seperti tidurnya kijang, kalau pergi mencari makan seperti caranya anak kijang". Tapa-tapa yang dianjurkan Sunan Kalijaga diantaranya: a. Badan, tapanya berlaku sopan santun, zakatnya gemar berbuat kebajikan. b. Hati atau budi, tapanya rela dan sabar, zakatnya bersih dari prasangka buruk. c. Nafsu, tapanya berhati ikhlas, zakatnya tabah menjalani cobaan dalam sengsara dan mudah mengampuni kesalahan orang. d. Nyawa atau roh, tapanya belaku jujur, zakatnya tidak mengganggu orang lain dan tidak mencela. e. Rahsa, tapanya berlaku utama, zakatnya duka diam dan menyesali kesalahan atau bertaubat. f. Cahaya ata Nur, tapanya berlaku suci dan zakatnya berhati ikhlas. g. Atma atau hayu, tapanya berlaku awas dan zakatnya selalu ingat. Di samping itu diajarkan pula tapa dan perbuatan yang berhubungan dengan tujuh anggota badan; 1.       Mata, tapanya mengurangi tidur, zakatnya tidak menginginkan kepunyaan orang lain. 2.       Telinga, tapanya mencegah hawa nafsu, zakatnya tidak mendengarkan perkataan-perkataan yang buruk 3.       Hidung, tapanya mengurangi minum, zakatnya tidak suka mencela keburukan orang lain 4.       Lisan, tapanya mengurangi makan, zakatnya dengan menghindari perkataan-perkataan buruk 5.       Aurat, tapanya menahan syahwat dan zakatnya menghindari perbuatan zina 6.       Tangan, tapanya mencegah perbuatan mencuri, zakatnya tidak suka memkul orang lain 7.       Kaki, tapanya tidak untuk berjalan berbuat kejahatan dan zakatnya menyukai berjalan untuk istirahat dan intropeksi. 8.         Ketiga, Pupuh Durna, yang berisikan tentang Sunan Kalijaga yang diperintahkan ibadah haji ke Makkah dan bertemu dengan nabi Khidir di tengah samudera. Dalam teks tersebut disebutkan: "Sang pendeta wus lajeng hing lampahira, mring benang dhepok sepi, nyata kawuwusa, Lampahe Syeh Melaya, kang arsa amunggah kaji, dhateng hing makkah, lampahnya murang margi". Artinya, " Sunan Bonang sudah lebih dulu melangkahkan kaki, menuju desa Benang yang sepi. Dan selanjutnya kita ikuti, perjalanan Syeikh Malaya, yang berkehendak naik haji menuju Makkah dia menempuh jalan pintas . Setelah melalui proses tafakkur Sunan Bonang kemudian menyuruh Sunan Kalijaga untuk pergi ke makkah menunaikan ibadah haji yang kemudian diperintahkan untuk bertemu nabi Khidzir dan berguru kepadanya. Sunan Kalijaga bertemu Nabi Khidzir ditengah samudera yang kemudian nabi khidzir memberikan wejangan kepada Sunan Kalijaga tentang Hidayatullah (petunjuk Allah). Hidayatullah dapat diartikan sebagai petunjuk Allah. Petunjuk merupakan sebuah anugerah yang tidak diterima oleh setiap orang. Sebagaimana dalam teks tersebut dijelaskan "nyuwun wikan kang sifat hidayatullah munggah kajiyo miring Makkah marga suci", artinya bahwa untuk mencapai petunjuk dari Allah manusia harus dalam kondisi suci, suci secara dhahiriyah dan bathiniah dan dilakukan hati tulus dan ikhlas. Sebagaimana Sunan Bonang menyarankan kepada Sunan Kalijaga untuk mencari kepandaian dan hidayatullah di Makkah. Makkah merupakan kota suci, kota sebagai kiblat bagi seluruh umat Islam yang mampu naik haji, sehingga dalam Islam pun diwajibkan bagi umat Islam yang mampu naik haji sebagai perwujudan pelaksanaan rukun Islam yang kelima. Keempat, sang Nabi Khidzir (Pupuh Dhandhang Gula), mengupas tentang dialog antara Syeh Malaya dengan nabi Khidzir yang berisikan wejangan tentang hidayatullah dan kematian dengan berbagai aspeknya. Dalam teks aslinya "….nadyan wus haji iku yen tan weruh paraning kaji ,...margone tan kanggo lunga, mring ka'bah yen arsa wruh ing ka'bah jati, jati iman h idayat". Artinya, "…oleh karena itu, biarpun kamu sudah naik haji bila belum tahu tujuan yang sebenarnya dari ibadah haji, kamu akan rugi besar…ka'bah yang hendak kau kunjungi itu sebenarnya ka'batullah (ka'bah Allah). Demikian itu sesungguhnya iman hidayat yang harus kamu yakinkan dalam hati. Kalau seseorang akan melakukan ibadah haji, maka harus diketahui tujuan yang sebenarnya, kalau tidak, apa yang dilakukan itu sia-sia belaka, itulah yang dinamakan iman hidayat. Dan sebelum seseorang melakukan sesuatu hendaklah diteliti agar tidak tertipu oleh nafsu, supaya tetap dalam jati diri yang asli (pancamaya). Penghalang tingkah laku kebaikan ada tiga golongan, dan siapa berhasil menjauhi penghalang tersebut akan berhasil menyatukan dirinya dengan yang ghaib. Yang dimaksud dengan penghalang tersebut adalah marah, sakit hati, angkara murka, sombong dan semacam itu. Dalam teksnya dijelaskan, "pan isine jagad amepeki, iya iku kang telung prakara, pamurunge laku kabeh kang bisa pisah iku, yekti bisa amoring ghaib, iku mungsuhe tapa, ati kang tetelu, ireng, abang, kuningsamya, angadhangi cipta karsa kang lestari, pamore sulama mulya". Artinya, " sebab isinya dunia ini sudah lengkap, yaitu terbagi ke dalam tiga golongan, semuanya adalah penghalang tingkah laku kalau mampu menjauhi itu, pasti dapat berkumpul dengan ghaib, itu yang menghalangi meningkatkan citra diri, hati yang tiga macam, hitam, merah, kuning, semua itu, menghalangi pikiran dan kehendak tiada putus-putusnya, akan menyatunya dengan Tuhan yang membuat nyawa lagi mulia”. Godaan yang berat digambarkan empat penari pada keempat sudut itu, yaitu nafsu-nafsu yang timbul dari badan kita sendiri, pertama, amarah, yaitu nafsu yang menimbulkan rasa ingin marah, ingin menguasai, ingin menaklukkan, serakah dan kejam, segala tindakannya selalu merugikan orang lain. Dalam ilmu Jawa, nafsu amarah biasa digambarkan dengan sinar (cahaya) yang berwarna merah, kedua, aluamah, nafsu yang menimbulkan keinginan untuk makan dan minum secara berlebihan. Orang yang menuruti nafsu aluamah gemar makan yang enak-enak, rakus, tak pernah merasa puas, dan malas bekerja. Nafsu aluamah digambarkan dengan sinar (cahaya) yang berwarna hitam. Ketiga sufi'ah, nafsu yang menimbulkan sifat dengki dan iri hati. Orang dengan nafsu ini selalu menggerutu dan iri hati kepada temanya yang kaya dan pandai, tetapi ia sendiri tidak mau berusaha. Sifat sufiah digambarkan dengan sinar (cahaya) berwarna kuning. Keempat, mutmainnah, nafsu yang pada dasarnya baik, suka memberi, penyayang. Orang yang menuruti hawa nafsu mutmainnah sangat menyayangi orang lain tanpa perhitungan. Hal ini dapat menjadikan dirinya celaka dan orang yang diberi juga ikut celaka. Sifat mutmainnah digambarkan dengan sinar (cahaya) putih. Si penari (budi manusia) haruslah dapat mengekang dan menguasai empat nafsu itu, dan disalurkan ke arah (hal-hal) yang baik, agar dapat memiliki (mencapai) waranggana (cita-cita yang mulia) yang dikejarnya. Nafsu amarah disertai keberanian dan terpelihara, dapatlah ia mencapai martabat yang tinggi dan tidak akan berbuat kejam. Nafsu aluamah disertai rajin dan menjaga kesehatan dapatlah ia mencapai kecukupan hidupnya dan badan tetap terpelihara. Nafsu sufiah, disertai usaha maka ia sanggup mencapai apa yang diinginkan. Nafsu mutmainah, disertai perhitungan, akan mendatangkan ketenteraman hidup, tertolong sebagaimana mestinya. Kelima, Kinanthi (Pupuh Kinanthi) yang terdiri dari enam puluh bait yang berisikan tentang ajaran nabi Khidzir kepada Sunan Kalijaga tentang ilmu yakin, ainul yakin, haqqul yakin, makrifatul yaqin dan iman hidayat serta sifat-sifat yang terpuji. Dalam teks aslinya disebutkan "urip jroning johar iku, urip mati sajroning, iya aneng johar awal, pagene sholat sireki, ya ora ing ndalem ndoya, purwane sholat puniki". Artinya: "jelasnya, kehidupan yang telah digariskan sebelumnya oleh johar itu, telah memuat garis hidup dan mati kita. Segalanya telah ditentukan di dalam johar awal. Dari keterangan tentang johar awal tadi, tentu akan menimbulkan pertanyaan, diantaranya; mengapa kamu wajib sholat, di dalam dunia ini?". Pada bagian ini Sunan Kalijaga belajar tentang ilmu yaqin, ainul yaqin dan haqqul yaqin serta makrifat, yang kemudian nabi Khidzir memberikan contoh tentang sholat sebagai bukti keyakinan manusia tentang adanya Tuhan atau Allah yang harus disembah, yang pada prinsipnya bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini ada yang menciptakan. Begitu pun juga manusia, eksistensi manusia di bumi karena adanya sang pencipta yaitu Allah. Adanya manusia itulah yang membuktikan adanya Allah, dan tanda-tanda adanya Allah adalah pada dirimu kata Nabi Khidzir kepada Sunan Kalijaga. Sebenarnya tanda-tanda adanya Allah itu ada pada diri manusia sendiri, barang siapa yang mengetahui dirinya sendiri maka akan mengetahui Tuhannya, jadi dengan bertafakkur atas diri dan sifat-sifatnya sendiri, manusia mengetahui bahwa ia sebenarnya dijadikan dari setetes air yang tidak mempunyai akal sedikitpun dan, tidak pula mempunyai pendengaran, penglihatan, kaki, tangan, kepala dan sebagainya. Dari sinilah manusia akan mengetahui dengan terang dan nyata bawa tingkat kesempurnaan yang ia capai bukan ia sendiri yang membuatnya melainkan Allah lah yang menciptakan karena sehelai rambut manusia tidak akan sanggup membuatnya. Manusia harus selalu bermakrifat kepada Allah, dalam ayat Al-Qur'an menjelaskan bahwa pengagungan kepada Allah diwujudkan dengan makrifat, kalau tidak makrifat berarti tidak menghargai Allah. Allah berfirman;"… dan tiada mereka mengagungkan Allah sebagaimana mestinya" (al-An-'am: 91). Yang dimaksud tidak mengagungkan Allah dalam ayat itu berarti tidak makrifat kepada-Nya. Makrifat merupakan sifat orang-orang yang mengenal Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, kemudian membenarkan Allah dengan melaksanakan ajarannya dalam perbuatan. Selain itu makrifat dapat membersihkan diri dari akhlak yang rendah dan dosa-dosa, yang kemudian lama-lama dapat mengetuk "pintu" Allah dengan hati yang istiqomah, dia melakukan makrifat untuk menjauhi dosa-dosa. Sehingga dia memperoleh hidayah dari Allah.54 Yang kesemuanya itu diperlukan adanya tauhid yang kuat. Dalam teksnya dijelaskan "…tauahid panembah reki, makrifat pangawruh kita, ya ru'yat minangka seksi" artinya tauhid adalah pengetahuan yang penting untuk menyembah pada Allah juga makrifat harus kita miliki untuk mengetahui kejelasan yang terlihat, ya rukyat (ya dengan melihat pakai mata telanjang) sebagai saksi adanya terlihat dengan nyata". Keenam, Pupuh Dhandhang Gula yang terdiri dari lima puluh dua bait, pada bagian ini berisi tentang Sunan Kalijaga menerima wejangan dari nabi Khidzir Dalam teks aslinya disebutkan " kawisayan kang marang ing pati, den kahasto pamanthenging cipta, rupa ingkang sabenere, sinengker buwaneku, urip data nana nguripi, datan antara mangsa, iya anaripun, pas wus ana ing sarira, tuhu tunggal sejane lawan sireki, tan kena pisahenna. Artinya; "cobaan hidup yang menuju kematian. ditimbulkan akibat buah pikir, bentuk yang sebenarnya ialah tersimpan rapat di dalam jagatmu! Hidup tanpa ada yang menghidupi kecuali Allah saja. Tiada antara lamanya tentang adanya itu. Bukanlah sudah berada ditubuh? Sungguh bersama lainnya selalu ada dengan kau! Tak mungkin terpisahkan Pada bagian ini Sunan Kalijaga mendapatkan wejangan tentang hakikat hidup, hidup yang penuh cobaan dan masalah semua itu harus  diserahkan sepenuhnya kepada Allah karena segala yang muncul di muka bumi karena Allah. Allah adalah sumber kebahagiaan, sumber kedamaian, sumber keselamatan, meskipun demikian, rasa di dalam batinlah yang bisa menangkap kebahagiaan itu. Hakikat rasa adalah tumbuhnya kemampuan untuk merasakan kehadiran Tuhan. Kemampuan untuk melihat wajah-Nya, kemampuan untuk menghadap dihadirat-Nya, sehingga sang jiwa menjadi madeg dan mantep dalam mengarungi kehidupan ini. Manusia harus menghadap realita mutlak (kebenaran sejati) yang berada dalam diri manusia sendiri, sehingga di dalam Suluk Linglung dinamakan "tunggal lawan sang hyang widi", hamba menyatu dengan Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Hal ini disebut dalam Pupuh Kinanthi bait 53; " Thaukid hidayat sireku, tunggal lawan Sang Hyang widi, tunggal sira lawan Allah, uga donya uga akhir, ya rumangsana pangeran, ya Allah ana nireki". Artinya; "Thaukid hidayat yang sudah ada padamu, menyatu dengan Tuhan yang terpilih. Menyatu dengan Tuhan Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Dan kamu harus merasa bahwa Tuhan Allah itu ada dalam dirimu”. Ajaran makrifat yang di ajarkan oleh sunan kalijaga tidak hanya melibatkan dunia dalam microkosmos tetapi juga memandang dunia secara macrokosmos (misalnya alam semesta, kenyataan sosial, dll), agar manusia jangan sampai melupakan tujuan hidup manusia yang sesungguhnya baik di dunia dan di akhirat. Bagi sufi mencapai makrifat, maka berarti dia makin dekat dengan Tuhan, dan akhirnya dapat bersatu dengan Tuhan. Tetapi, sebelum seorang sufi bersatu dengan Tuhan dia harus lebih dahulu menghancurkan dirinya. Selama dia belum menghancurkan dirinya, yaitu dia masih sadar akan dirinya dia tidak akan dapat bersatu dengan Tuhan. Penghancuran diri ini dalam tasawuf disebut fana (hilang, hancur). Fana yang dicari oleh sufi ialah penghancuran diri, yaitu hancurnya peranan dan kesadaran tentang adanya tubuh kasar manusia ini. Jika seseorang telah mencapai, yaitu kalau wujud jasmaninya tak ada lagi (dalam arti tak disadarinya lagi), maka yang tinggal ialah wujud rohaninya dan ketika itu dapatlah ia bersatu dengan Tuhan. Kelihatannya persatuan dengan Tuhan ini terjadi langsung setelah tercapainya fana' tak ubahnya dengan fana' tentang kejahilan, maksiat dan kelakuan buruk. Dengan hancurnya hal-hal buruk ini, maka yang tinggal ialah pengetahuan, takwa dan kelakuan baik. (Sumber: Siami Nahri F - Dok. Rumah Pendidikan Sciena Madani) Refrensi: Rus'an , Mutiara Ihya' Ulumuddin Iman Al-Ghozali, (Semarang: Wicaksana, 1984) Sudirman Tebba, Kecerdasan Sufistik; Jembatan Menuju Makrifat, (Jakarta: Kencana, 2004) http : // www. Serambi. Co. id / modules. Ahmad Chodjim, Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga, (Jakarta: PT Serambi IlmuSemesta, 2004)  Iman Anom, Suluk Linglung Sunan Kalijaga (Syeh Melaya), (Jakarta : Balai Pustaka, Purwadi dan Siti Maziyah, Hidup dan Spiritual Sunan Kalijaga, (Yogyakarta : Panji Pustaka 2005) Purwadi, Dakwah Sunan Kalijaga " Penyebaran Agama Islam di Jawa berbasis kultural, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004) Baca Juga: Perjalanan Spiritual/Menjadi Wali dan Karya Jasa Sunan Kalijaga Silsilah dan Asal-usul Sunan Kalijaga Metode Dakwah Sunan Kalijaga http://www.lembahmanah.com/2015/04/ajaran-makrifat-dalam-suluk-linglung.html Warta Madani di 23.52

Suluk Sunan Kalijogo


SULUK SUNAN KALI JAGA MLEBU ALLAH METU ALLAH Ada warisan temurun spirit ajaran Sunan Kalijaga atau di sebut SULUK SUNAN KALI JAGA MLEBU ALLAH METU ALLAH. Dalam permenungan hakiki manusia serta penyadaran pencarian kesejatian:    Bismillahirrahmanirrahim (Dengan / Atas Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang). Melebu Allah. Metu Allah (masuknya nafas karena Allah ... keluarnya nafas karena Allah).    Anekadaken urip iku Allah (yang mengadakan hidup itu Allah). Utek dunungno kodrate Allah (otak letakkan atas kodrat Allah).   Ya Hu ... Allah Ya Hu ... Allah Ya Hu ... Allah ... Wahai dzat yang tidak sama dengan makhluknya. Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu utusanMu, mengantarkan limpahan kasih sayangMu pada manusia dan segala ciptaanMu di seluruh alam. Melebu Allah. Metu Allah (masuknya nafas karena Allah ... keluarnya nafas karena Allah/ masuk dan keluarnya nafas menyebut Allah).   Ya Hu ... Allah Ya Hu ... Allah Ya Hu ... Allah ... Ada warisan temurun spirit ajaran Sunan Kalijaga. Dalam permenungan hakiki manusia serta penyadaran pencarian kesejatian: Bismillahirrahmanirrahim (Dengan / Atas Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang).    Melebu Allah. Metu Allah (masuknya nafas karena Allah ... keluarnya nafas karena Allah). Anekadaken urip iku Allah (yang mengadakan hidup itu Allah). Utek dunungno kodrate Allah (otak letakkan atas kodrat Allah).    Ya Hu ... Allah Ya Hu ... Allah Ya Hu ... Allah ... Wahai dzat yang tidak sama dengan makhluknya. Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu utusanMu, mengantarkan limpahan kasih sayangMu pada manusia dan segala ciptaanMu di seluruh alam. Melebu Allah. Metu Allah (masuknya nafas karena Allah ... keluarnya nafas karena Allah) Ya Hu ... Allah Ya Hu ... Allah Ya Hu ... Allah ... Hilangkan rasa takut tersesat didalam menempuh jalan ruhani ... bekal kita adalah tauhid, lambungkan jiwa melayang menuju Allah ... dekatkan dan berbisiklah dengan kemurnian hati ... jangan menghadap dengan konsentrasi pikiran, sebab anda akan mengalami pusing dan tegang.   Usahakanlah tubuh anda rileks dan pasrah ... biarkan hati bergerak menyebut Asma-Nya yang Maha Agung ... Ajaklah perasaan dan fikiran untuk hadir bersujud dihadapan-Nya. Jangan hiraukan kebisingan pikiran ... usahakan hati tetap teguh menyebut nama Allah berulang-ulang ... sampai datang ketenangan dan hening serta rasa tenteram didalam kalbu ... kalau anda mengalami pusing dan penat ... berarti cara berdzikirnya menggunakan kosentrasi pikiran, maka ulangi dengan cara berkomunikasi didalam hati ... Allah ... Allah ... Allah ... Oleh : SufiWay

Jumat, 15 Mei 2015

Manunggaling Kawulo Gusti


MANUNGGALING KAWULA GUSTI: 140 AJARAN DAN PEMIKIRAN SYEIKH SITI JENAR Syekh Siti Jenar (juga dikenal dalam banyak nama lain, antara lain Sitibrit, Lemahbang, dan Lemah Abang) adalah seorang tokoh yang dianggap sebagai sufi dan salah seorang penyebar agama Islam di Pulau Jawa.Tidak ada yang mengetahui secara pasti asal-usulnya. Di masyarakat, terdapat banyak variasi cerita mengenai asal-usul Syekh Siti Jenar. Sebagian umat Islam menganggapnya sesat karena ajarannya yang terkenal, yaitu Manunggaling Kawula Gusti. Akan tetapi, sebagian yang lain menganggap bahwa Syekh Siti Jenar adalah seorang intelektual yang telah memperoleh esensi Islam itu sendiri. Ajaran-ajarannya tertuang dalam karya sastra buatannya yang disebut pupuh. Ajaran yang sangat mulia dari Syekh Siti Jenar adalah budi pekerti. Syekh Siti Jenar mengembangkan ajaran cara hidup sufi yang dinilai bertentangan dengan ajaran Walisongo. Pertentangan praktik sufi Syekh Siti Jenar dengan Walisongo terletak pada penekanan aspek formal ketentuan syariah yang dilakukan oleh Walisongo. Syekh Siti Jenar juga berpendapat bahwa Allah itu ada dalam dirinya, yaitu di dalam budi. Pemahaman inilah yang dipropagandakan oleh para ulama pada masa itu, mirip dengan konsep Al-Hallaj (tokoh sufi Islam yang dihukum mati pada awal sejarah perkembangan Islam, kira-kira pada abad ke-9 Masehi) tentang hulul yang berkaitan dengan kesamaan sifat Tuhan dan manusia. Dimana seharusnya pemahaman ketauhidan melewati empat tahap, yaitu: Syariat, dengan menjalankan hukum-hukum agama seperti salat, zakat, dan lain-lain, Tarekat, dengan melakukan amalan-amalan seperti wirid, zikir dalam waktu dan hitungan tertentu, Hakekat, di mana hakikat dari manusia dan kesejatian hidup akan ditemukan, dan Makrifat, kecintaan kepada Allah dengan makna seluas-luasnya. Syekh Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang yang beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum bisa disebut ikhlas. Manunggaling Kawula Gusti Dalam ajarannya ini, pendukungnya berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan. Arti dari Manunggaling Kawula Gusti dianggap bukan bercampurnya Tuhan dengan makhluk-Nya, melainkan bahwa Sang Pencipta adalah tempat kembali semua makhluk dan dengan kembali kepada Tuhannya, manusia telah bersatu dengan Tuhannya. Dalam ajarannya pula, Manunggaling Kawula Gusti bermakna bahwa di dalam diri manusia terdapat roh yang berasal dari roh Tuhan sesuai dengan ayat Al-Quran yang menerangkan tentang penciptaan manusia: “ Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh-Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya." Q.S. Shaad: 71-72 ” Dengan demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala penyembahan terhadap Tuhan terjadi. Perbedaan penafsiran ayat Al-Qur’an dari para murid Syekh Siti inilah yang menimbulkan polemik bahwa di dalam tubuh manusia bersemayam ruh Tuhan, yaitu polemik paham Manunggaling Kawula Gusti.  140 AJARAN DAN PEMIKIRAN SYEIKH SITI JENAR 001. …. tidak usah kebanyakan teori semua, karena sesungguhnya ingsun (saya) inilah Allah. Nyata ingsun yang sejati, bergelar Prabu Satmata, yang tidak ada lain kesejatiannya yang disebut sebangsa Allah. 002. Jika ada seseorang manusia yang percaya kepada kesatuan lain selain Allah SWT, maka ia akan kecewa karena ia tidak akan memperoleh apa yang ia inginkan. 003. Allah itu adalah keadaanku, lalu mengapa kawan-kawanku sama memakai penghalang? Dan sesungguhnya aku ini adalah haq Allah pun tiada wujud dua; saya sekarang adalah Allah, nanti Allah, dzahir bathin tetap Allah, kenapa kawan-kawan masih memakai pelindung?. 004. Sebenarnya keberadaan dzat yang nyata itu hanya berada pada mantapnya tekad kita, tandanya tidak ada apa-apa, tetapi harus menjadi segala niat kita yang sungguh-sungguh. 005. Tidak usah banyak bertingkah, saya ini adalah Tuhan. Ya, betul betul saya ini adalah Tuhan yang sebenarnya, bergelar Prabu Satmata, ketahuilah bahwa tidak ada tuhan yang lain selain saya. 006. Saya ini mengajarkan ilmu untuk betul-betul dapat merasakan adanya kemanunggalan. Sedangkan bangkai itu selamanya tidak ada. Adapun yang dibicarakan sekarang adalah ilmu yang sejati yang dapat membuka tabir kehidupan. Dan lagi semuanya sama. Tidak ada tanda secara samar-samar, bahwa benar-benar tidak ada perbedaan yang bagaimanapun, saya akan tetap mempertahankan tegaknya ilmu tersebut. 007. Bahwa sesungguhnya, lafadz Allah yaitu kesaksian akan Allah, yang tanpa rupa dan tiada tampak akan membingungkan orang, karena diragukan kebenarannya. Dia tidak mengetahui akan diri pribadinya yang sejati, sehingga ia menjadi bingung. Sesungguhnya nama Allah itu untuk menyebut wakil-Nya, diucapkan untuk menyatakan yang dipuja dan menyatakan suatu janji. Nama itu ditumbuhkan menjadi kalimat yang diucapkan Muhammad Rasulullah. 008. ….. padahal sifat kafir berwatak jisim, yang akan membusuk, hancur lebur bercampur tanah. Lain jika kita sejiwa dengan Dzat Yang Maha Luhur. Ia gagah berani, Maha Sakti dalam syarak, menjelajahi alam semesta. Dia itu pangeran saya, yang menguasai dan memerintah saya, yang bersifat wahdahniyah, artinya menyatukan diri dengan ciptaan-Nya. Ia dapat abadi mengembara melebihi peluru atau anak sumpit, bukan budi bukan nyawa, bukan hidup tanpa asal dari manapun, bukan pula kehendak tanpa tujuan. Dia itu yang bersatu padu dengan wujud saya. Tiada susah payah, kudrat dan kehendak-Nya, tiada kenal rintangan, sehingga pikiran keras dari keinginan luluh tiada berdaya. Maka timbullah dari jiwa raga saya kearif-bijaksanaan saya menjumpai ia sudah ada di sana. 009. Syeikh Lemah Bang namaku, Rasulullah ya aku sendiri, Muhammad ya aku sendiri,Asma Allah itu sesungguhya diri ku, ya akulah yang menjadi Allah ta’ala. 010. Jika Anda menanyakan di mana rumah Tuhan, maka jawabnya tidaklah sukar. Allah berada pada Dzat yang tempatnya tidak jauh, yaitu berada dalam tubuh manusia. Tapi hanya orang yang terpilih saja yang bisa melihatnya, yaitu orang-orang suni. 011. Rahasia kesadaran kesejatian kehidupan, ya ingsun ini kesejahteraan kehidupan, engkau sejatinya Allah, ya ingsun sejatinya Allah; yakni wujud yang berbentuk itu sejati itu sejatinya Allah, sirr (rahasia) itu Rasulullah, lisan (pengucap) itu Allah, jasad Allah badan putih tanpa darah, sirr Allah, rasa Allah, rahasia rasa kesejatian Allah, ya ingsun (aku) ini sejatinya Allah. 012. Adanya kehidupan itu karena pribadi, demikian pula keinginan hidup itupun ditetapkan oleh diri sendiri, tidak mengenal roh, yang melestarikan kehidupan, tiada turut merasakan sakit ataupun lelah. Suka dukapun musnah karena tidak diinginkan oleh hidup. Dengan demikian hidupnya kehidupan itu berdiri sendiri. 013. Dzat wajibul maulana adalah yang menjadi pemimpin budi yang menuju ke semua kebaikan. Citra manusia hanya ada dalam keinginan yang tunggal. Satu keinginan saja belum tentu dapat dilaksanankan dengan tepat, apalagi dua. Nah cobalah untuk memisahkan Dzat wajibul maulana dengan budi, agar supaya manusia dapat menerima keinginan yang lain. 014. Hyang Widi, kalau dikatakan dalam bahasa di dunia ini adalah baka bersifat abadi, tanpa antara tiada erat dengan sakit apapun rasa tidak enak, ia berada baik disana, maupun di sini, bukan ini bukan itu. Oleh tingkah yang banyak dilakukan dan yang tidak wajar, menuruti raga, adalah sesuatu yang baru. 015. Gagasan adanya badan halus itu mematikan kehendak manusia. Di manakah adanya Hyang Sukma, kecuali hanya diri pribadi. Kelilingilah cakrawala dunia, membubunglah ke langit yang tinggi, selamilah dalam bumi sampai lapisan ke tujuh, tiada ditemukan wujud yang mulia. 016. Kemana saja sunyi senyap adanya; ke Utara, Selatan, Barat, Timur dan Tengah, yang ada di sana hanya adanya di sini. Yang ada di sini bukan wujud saya. Yang ada dalam diriku adalah hampa dan sunyi. Isi dalam daging tubuh adalah isi perut yang kotor. Maka bukan jantung bukan otak yang pisah dari tubuh, laju peasat bagaikan anak panah lepas dari busur, menjelajah Mekkah dan Madinah. 017. Saya ini bukan budi, bukan angan-angan hati, bukan pikiran yang sadar, bukan niat, bukan udara, bukan angin, bukan panas, dan bukan kekosongan atau kealpaan. Wujud saya ini jasad, yang akhirnya menjadi jenazah, busuk bercampur tanah dan debu. Napas saya mengelilingi dunia, tanah, api, air, dan udara kembali ke tempat asalnya, sebab semuanya barang baru bukan asli. 018. Maka saya ini Dzat sejiwa yang menyatu, menyukma dalam Hyang Widi. Pangeran saya bersifat Jalal dan Jamal, artinya Maha Mulia dan Maha Indah. Ia tidak mau sholat atas kehendak sendiri, tidak pula mau memerintah untuk shalat kepada siapapun. Adapun shalat itu budi yang menyuruh, budi yang laknat dan mencelakakan, tidak dapat dipercaya dan dituruti, karena perintahnya berubah-ubah. Perkataannya tidak dapat dipegang, tidak jujur, jika dituruti tidak jadi dan selalu mengajak mencuri. 019. Syukur kalau saya sampai tiba di dalam kehidupan yang sejati. Dalam alam kematian ini saya kaya akan dosa. Siang malam saya berdekatan dengan api neraka. Sakit dan sehat saya temukan di dunia ini. Lain halnya apabila saya sudah lepas dari alam kematian. Saya akan hidup sempurna, langgeng tiada ini dan itu. 020. Menduakan kerja bukan watak saya. Siapa yang mau mati dalam alam kematian orang kaya akan dosa. Balik jika saya hidup yang tak kekak ajal, akan langeng hidup saya, tidak perlu ini dan itu. Akan tetapi saya disuruh untuk memilih hidup atau mati saya tidak sudi. Sekalipun saya hidup, biar saya sendiri yang menentukan. 021. …….Betapa banyak nikmat hidup manfaatnya mati. Kenikmatan ini dijumpai dalam mati, mati yang sempurna teramat indah, manusia sejati adalah yang sudah meraih ilmu. Tiada dia mati, hidup selamanya, menyebutnya mati berarti syirik, lantaran tak tersentuh lahat, hanya beralih tempatlah dia memboyong kratonnya. 022. Aku angkat saksi dihadapan Dzat-KU sendiri, sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Aku. Dan Aku angkat saksi sesungguhnya Muhammad itu utusan-KU, sesungguhnya yang disebut Allah adalah ingsun (aku) diri sendiri. Rasul itu rasul-KU, Muhammad itu cahaya-KU, aku Dzat yang hidup yang tak kena mati, Akulah Dzat yang kekal yang tidak pernah berubah dalam segala keadaan. Akulah Dzat yang bijaksana tidak ada yang samar sesuatupun, Akulah Dzat Yang Maha Menguasai, Yang Kuasa dan Yang Bijaksana, tidak kekurangan dalam pengertian, sempurna terang benderang, tidak terasa apa-apa, tidak kelihatan apa-apa, hanyalah aku yang meliputi sekalian alam dengan kudrat-KU. 023. Janganlah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah keberadaan Allah. Disebut Imannya Iman. 024. Jangalah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah tempat manunggalnya Allah. Disebut Imannya Tauhid. 025. Jangalah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah sifatnya Allah. Disebut Imannya Syahadat. 026. Jangalah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah kewaspadaan Allah. Disebut Imannya Ma’rifat. 027. Jangalah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah menghadap Allah. Disebut Imannya Shalat. 028. Jangalah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah kehidupannya Allah. Disebut Imannya Kehidupan. 029. Jangalah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah kepunyaan dan keagungan Allah. Disebut Imannya Takbir. 030. Jangalah ragu dan janganlah menyekutukan, sebab engkau adalah pertemuan Allah. Disebut Imannya Saderah. 031. Jangalah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah kesucian Allah. Disebut Imannya Kematian. 032. Jangalah ragu dan janganlah menyekutukan, sebab engkau adalah wadahnya Allah. Disebut Imannya Junud. 033. Jangalah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah bertambahnya nikmat dan anugrah Allah. Disebut Imannya Jinabat. 034. Jangalah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah asma Nama Allah. Disebut Imannya Wudlu. 035. Jangalah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah ucapan Allah. Disebut Imannya Kalam.036. Jangalah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah juru bicara Allah. Disebut Imannya Akal. 037. Jangalah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah wujud Allah, yaitu tempat berkumpulnya seluruh jagad alam mayapada, dunia akhirat, surga neraka,arsy kursi, loh kalam, bumi langit, manusia, jin, iblis laknat, malaikat, nabi, wali, orang mukmin, nyawa semua, itu berkumpul di pucuknya jantung, yang disebut alam khayal (ala al-khayal). Disebut Imannya Nur Cahaya. 038. Yang disebut kodrat itu yang berkuasa, tiada yang mirip atau yang menyamai. Kekuasannya tanpa piranti, keadaan wujudnya tidak ada baik luar maupun dalam merupakan kesatuan, yang beraneka ragam. 039. Iradat artinya kehendak yang tiada membicarakan, ilmu untuk mengetahui keadaan, yang lepas jauh dari panca indra bagaikan anak gumpitan lepas tertiup. 040. Inilah maksudnya syahadat: Asyhadu berarti jatuhnya rasa, Ilaha berarti kesetian rasa, Ilallah berarti bertemunya rasa, Muhammad berartihasil karya yang maujud dan Pangeran berarti kesejatian hidup. 041. Mengertilah bahwa sesungguhnya ini syahadat sakarat, jika tidak tahu maka sakaratnya masih mendapatkan halangan, hidupnya dan matinya hanya seperti hewan. 042. Syahadat allah, allah badan lebur menjadi nyawa, nyawa lebur menjadi cahaya, cahaya lebur menjadi roh, roh lebur menjadi rasa, rasa lebur sirna kembali kepada yang sejati, tinggalah hanya Allah semata yang abadi dan terkematian. (Terjemahan dalam Bahasa Indonesia). 043. Syahadat Ananing Ingsun, Asyhadu keberadaan-KU, La Ilaha bentuk wajahku, Ilallah Tuhanku, sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Aku, yaitu badan dan nyawa seluruhnya. (Terjemahan dalam Bahasa Indonesia). 044. Syahadat Panetep Panatagana yaitu, yang menjadi bertempatnya Allah, menghadap kepada Allah, bayanganku adalah roh Muhammad, yaitu sejatinya manusia, yaitu wujudnya yang sempurna. (Terjemahan dalam Bahasa Indonesia). 045. Kenikmatan mati tak dapat dihitung ….tersasar, tersesat, lagi terjerumus, menjadikan kecemasan, menyusahkan dalam patihnya, justru bagi ilmu orang remeh….. 046. Segala sesuatu yang wujud, yang tersebar di dunia ini, bertentangan dengan sifat seluruh yang diciptakan, sebab isi bumi itu angkasa yang hampa. 047. Shalat lima kali sehari adalah pujian dan dzikir yang merupakan kebijaksanaan dalam hati menurut kehendak pribadi. Benar atau salah pribadi sendiri yang akan menerima, dengan segala keberanian yang dimiliki. 048. Pada permulaan saya shalat, budi saya mencuri, pada waktu saya dzikir, budi saya melepaskan hati, menaruh hati kepada seseorang, kadang-kadang menginginkan keduniaan yang banyak, lain dengan Dzat Maha yang bersama diriku, Nah, saya inilah Yang Maha Suci, Dzat Maulana yang nyata, yang tidak dapat dipikirkan dan tidak dapat dibayangkan. 049. Syahadat, shalat, dan puasa itu adalah amalan yang tidak diinginkan, oleh karena itu tidak perlu dilakukan. Adapun zakat dan naik haji ke Makkah, keduanya adalah omong kosong. Itu semua adalah palsu dan penipuan terhadap sesama manusia. Menurut para auliya’ bila manusia melakukannya maka dia akan dapat pahala itu adalah omong kosong, dan keduanya adalah orang yang tidak tahu. 050. Tiada pernah saya menuruti perintah budi, bersujud-sujud di masjid mengenakan jubah, pahalanya besok saja, bila dahi sudah menjadi tebal, kepala, berbelang. Sesungguhnya hal itu tidak masuk akal. Di dunia ini semua manusia adalah sama. Mereka semua mengalami suka duka, menderita sakit dan duka nestapa, tiada bedanya satu dengan yang lain. Oleh karena itu saya, Siti Jenar, hanya setia pada satu hal, saja, yaitu Gusti Dzat Maulana. 051. ….Gusti Dzat Maulana. Dialah yang luhur dan sangat sakti, yang berkuasa Maha Besar, lagi pula memiliki dua puluh sifat, kuasa atas segala kehendak-Nya. Dialah Maha Kuasa pangkal mula segala ilmu, Maha Mulia, Maha Indah, Maha Sempurna, Maha Kuasa, Rupa warna-nya tanpa cacat, seperti hamba-Nya. Di dalam raga manusia ia tiada tanpak. Ia sangat sakti menguasai segala yang terjadi, dan menjelajahi seluruh alam semesta, Ngindraloka. 052. Hyang Widi, wujud yang tak tampak oleh mata, mirip dengan ia sendiri, sifat-sifatnya mempunyai wujud, sperti penampakan raga yang tiada tanpak. Warnanya melambangkan keselamatan, tetapi tanpa cahaya atau teja, halus, lurus terus menerus, menggambarkan kenyataan tiada dusta, ibaratnya kekal tiada bermula, sifat dahulu yang meniadakan permulaan, karena asal diri pribadi. 053. Mergertilah bahwa sesungguhnya ini syahadat sakarat, jika tidak tahu maka sekaratnya masih mendapatkan halangan, hidupnya dan matinya hanya seperti hewan. 054. Syekh Siti Jenar mengetahui benar di mana kemusnahan anta ya mulya, yaitu Dzat yang melanggengkan budi, berdasarkan dalil ramaitu, ialah dalil yang dapat memusnahkan beraneka ragam selubung, yaitu dapat lepas bagaikan anak panah, tiada dapat diketahui di mana busurnya. Syari’at, tarekat, hakekat, dan ma’rifat musnah tiada terpikirkan. Maka sampailah Syekh Siti Jenar di istana sifat yang sejati. 055. Kematian ada dalam hidup, hidup ada dalam mati. Kematian adalah hidup selamanya yang tidak mati, kembali ke tujuan dan hidup langgeng selamanya, dalam hidup ini adalah ada surga dan neraka yang tidak dapat ditolak oleh manusia. Jika manusia masuk surga berarti ia senang, bila manusia bingung, kalut, risih, muak, dan menderita berarti ia masuk neraka. Maka kenikmatan mati tak dapat dihitung. 056. Hidup itu bersifat baru dan dilengkapi dengan panca indera. Panca indera ini merupakan barang pinjaman, yang jika sudah diminta oleh yang mempunyai, akan menjadi tanah dan membusuk, hancur lebur bersifat najis. Oleh karena itu panca indera tidak dapat dipakai sebagai pedoman hidup. Demikian pula budi, pikiran, angan-angan dan kesadaran, berasal dari panca indera, tidak dapat dipakai sebagai pegangan hidup. Akal dapat menjadi gila, sedih, bingung, lupa, tidur dan sering kali tidak jujur. Akal itu pula yang siang malam mengajak kita berbuat dengki, bahkan merusak kebahagiaan orang lain. Dengki juga akan menimbulkan kejahatan, kesombongan yang pada akhirnya membawa manusia ke dalam kenistaan dan menodai citranya. Kalau sudah sampai sedemikian parahnya manusia biasanya baru menyesali perbuatannya. 057. Apakah tidak tahu bahwa penampilan bentuk daging, urat, tulang, dan sumsum busa rusak dan bagaimana cara Anda memperbaikinya. Biarpun bersembahyang seribu kali setiap barinya akhirnya mati juga. Meskipun badan Anda, Anda tutupi akhirnya kena debu juga. Tetapi jika penampilan bentuknya seperti Tuhan, apakah para wali dapat membawa pulang dagingnya, saya rasa tidak dapat. Alam semesta ini adalah baru. Tuhan tidak akan membentuk dunia ini dua kali dan juga tidak akan membuat dunia ini dua kali dan juga tidak akan membuat tatanan baru. 058. Segala sesuatu yang terjadi di alam ini pada hakikatnya adalah perbuatan Allah. Berbagai hal yang dinilai baik maupun buruk pada hakikatnya adalah dari Allah juga. Jadi sangat salah besar bila ada yang menganggap bahwa yang baik itu dari Allah dan yang buruk adalah dari selain Allah. Oleh karena itu Af’al allah harus dipahami dari dalam dan dari luar diri manusia. Misalnya saat manusia menggoreskan pensil, di situlah terjadi perpaduan dua kemampuan kodrati yang dipancarkan oleh Allah kepada makhluk-Nya, yaitu kemampuan gerak pensil. Tanah yang terlempar dari tangan seseorang itu adalah berdasar kemampuan kodrati gerak tangan seseorang, ”maksudnya bukanlah engkau yang melempar, melainkan allah yang melempar ketika engkau melempar. 059. Di dunia ini kita merupakan mayat-mayat yang cepat juga akan menjadi rusak dan bercampur tanah. Ketahuilah juga bahwa apa yang dinamakan kawulo-gusti tidak berkaitan dengan seorang manusia biasa seperti yang lain-lain. Kawulo dan Gusti itu sudah ada dalam diriku, siang dan malam tidak dapat memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya untuk saat ini nama kawula-gusti itu belaku, yakni selama saya mati. Nanti kalau saya sudah hidup lagi, gusti dan kawulo lenyap, yang tinggal hanya hidupku sendiri, ketentraman langgeng dalam Anda sendiri. Bial kamu belum menyadari kata-kataku, maka dengan tepat dapat dikatakan bahwa kamu masih terbenam dalam masa kematian. Di sini memang terdapat banyak hihuran macam warna. Lebih banyak lagi hal-hal yang menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau tidak melihat, bahwa itu hanya akibat panca indera. Itu hanya impian yang sama sekali tidak mengandung kebenaran dan sebentar lagi akan cepat lenyap. Gilalah orng yang terikat padanya. Saya tidak merasa tertarik, tak sudi tersesat dalam kerajaan kematian, satu-satunya yang ku usahakan ualah kembali kepada kehidupan .060. Bukan kehendak, angan-angan, bukan ingatan, pikir atau niat, hawa nafsupun bukan, bukan juga kekosongan atau kehampaan, penampilanku bagai mayat baru, andai menjadi gusti jasadku dapat busuk bercampur debu, napsu terhembus ke segala penjuru dunia, tanah, api, air kembali sebagai asalnya, yaitu kembali menjadi baru. 061. Bumi, langit dan sebagainya adalah kepunyaan seluruh manusia. Manusialah yang memberi nama. Buktinya sebelum saya lahir tidak ada. 062. Sesungguhnya pada hakikatnya tidak ada perbedaan antara ajaran Islam dengan Syiwa Budha. Hanya nama, bahasa, serta tatanan yang berbeda. Misalnya dalam Syiwa Budha dikenal Yang Maha Baik dan Pangkal Keselamatan, sementara dalam Islam kita mengenal Allah al Jamal dan as Salam. Jika Syiwa dkenal sebagai pangkal penciptaan yang dikenal dengan Brahmana maka dalam Islam kita mengenal al Khaliq. Syiwa sebagai penguasa makhluk disebut Prajapati, maka dalam Islam kita mengenal al Maliku al Mulki. Jika Syiwa Maha Pemurah dan Pengasih disebut Sankara, maka dalam Islam kita mengena ar-Rahman dan ar-Rahim. 063. Kehilangan adalah kepedihan. Berbahagialah engkau, wahai musafir papa, yang tidak memiliki apa-apa maka tidak akan pernah kehilangan apa-apa. 064. Jika engkau kagum kepada seseorang yang engkau anggap Wali Allah, jangan engkau terpancang pada kekaguman akan sosok dan perilaku yang diperbuatnya. Sebab saat seseorang berada pada tahap kewalian, maka keberadaan dirinya sebagai manusia telah lenyap, tenggelam ke dalam al Waly. 065. Kewalian bersifat terus menerus, hanya saja saat tenggelam dalam al Waly. Berlangsungnya Cuma beberapa saat. Dan saat tenggelam ke dalam al Waly itulah sang wali benar-benar menjadi pengejawantahan al Waly. Lantaran itu sang wali memiliki kekeramatan yang tidak bisa diukur dengan akal pikiran manusia, dimana karamah itu sendiri pada hakekatnya pengejawantahan al Waly. Dan lantaran itu pila yang dinamakan karamah adalah sesuatu diluar kehendak sang wali pribadi. Semua itu semata-mata kehendak-Nya mutlak. 066. Kekasih Allah itu ibarat cahaya. Jika ia berada di kejahuan, kelihatan sekali terangnya. Namun jika cahaya itu didekatkan ke mata, mata kita akan silau dan tidak bisa melihatnya dengan jelas. Semakin dekat cahaya itu kemata maka kita akan semakin buta tidak bisa melihatnya. 067. Engkau bisa melihat cahaya kewalian pada diri seseorang yang jauh darimu. Namun engkau tidak bisa melihat cahaya kewalian yang memancar dari diri orang-orang yang terdekat denganmu. 068. Saya hanya akan memberi sebuah petunjuk yang bisa digunakan untuk meniti jembatam (shiratal mustaqim) ajaib ke arahnya. Saya katakan ajaib karena jembatan itu bisa menjauhkan sekaligus mendekatkan jarak mereka yang meniti dengan tujuan yang hendak dicapai. 069. Bagi kalangan awan, istighfar lazimnya dipahami sebagai upaya memohon ampun kepada Allah sehingga mereka memperoleh pengampunan. Tetapi bagi para salik, istighfar adalah upaya pembebasan dari belenggu kekakuan kepada Allah sehingga memperoleh ampun yang menyingkap tabir ghaib yang menyelubungi manusia. Sesungguhnya di dalam asma al Ghaffar terangkum makna Maha Pengampun dan juga Maha menutupi, Maha Menyembunyikan dan Maha Menyelubungi. 070. Semua itu terikat itu benar, hanya nama dan caranya saja yang berbeda. Justru ”cara” itu menjadi salah dan sesat ketika sang salik melihat menilai terlalu tinggi ”cara” yang diikutinya sehinga menafikan ”cara” yang lain. 071. Semua rintangan manusia itu berjumlah tujuh, karena kita adalah makhluk yang hidup di atas permukaan bumi. Allah membentangkan tujuh lapis langit yang kokoh di atas kita, sebagaimana bumipun berlapis tujuh, dan samuderapun berlapis tujuh. Bahkan neraka berlapis tujuh. Tidakkah anda ketahui bahwa suragapun berjumlah tujuh. Tidakkah Anda ketahui bahwa dalam beribadaaah kepada Allah manusia diberi piranti tujuh ayat yang diulang-ulang dari Al-Quran untuk menghubungkang dengan-Nya? Tidakkah Anda sadari bahwa saat Anda sujud anggota badan Anda yang menjadi tumpuan? 072. Di dunia manusia mati. Siang malam manusia berpikir dalam alam kematian, mengharap-harap akan permulaan hidupnya. Hal ini mengherankan sekali. Tetapi sesungguhnya manusia di dunia ini dalam alam kematian, sebab di dunia ini banyak neraka yang dialami. Kesengsaraan, panas, dingin, kebingungan, kekacauan, dan kehidupan manusia dalam alam yang nyata. 073. Dalam alam ini manusia hidup mulia, mandiri diri pribadi, tiada diperlukan lantaran ayah dan ibu. Ia berbuat menurut keinginan sendiri tiada berasal dari angin, air, tanah, api, dan semua yang serba jasad. Ia tidak menginginkan atau mengharap-harapkan kerusakan apapun. Maka apa yang disebut Allah ialah barang baru, direka-reka menurut pikiran dan perbuatan. 074. Orang-orang muda dan bodoh banyak yang diikat oleh budi, cipta iblis laknat, kafir, syetan, dan angan-angan yang muluk-muluk, yang menuntun mereka ke yang bukan-bukan. Orang jatuh ke dalam neraka dunia karena ditarik oleh panca indera, menuruti nafsu catur warna : hitam, merah, kuning, serta putih, dalam jumlah yang besar sekali, yang masuk ke dalam jiwa raganya. 075. Saya merindukan hidup saya dulu, tatkala saya masih suci tiada terbayangkan, tiada kenal arah, tiada kenal tempat, tiada tahu hitam, merah, putih, hijau, biru dan kuning. Kapankah saya kembali ke kehidupan saya yang dulu? Kelahiranku di dunia alam kematian itu demikian susah payahnya karena saya memiliki hati sebagai orang yang mengandung sifat baru. 076. Kelahiranku di dunia kematian itu demikian susah payahnya karena saya memiliki hati sebagai orang yang mengandung sifat baru. 077. Keinginan baru, kodrat, irodat, samak, basar dan ’aliman. Betul-betul terasa amat berat di alam kematian ini. Panca pranawa kudus, yaitu lima penerangan suci, semua sifat saya, baik yang dalam maupun yang luar, tidak ada yang saya semuanya iti berwujud najis, kotor dan akan menjadi racun. Beraneka ragam terdapat tersebut dalam alam kematian ini. Di dunia kematian, manusia terikat oleh panca indera, menggunakan keinginan hidup, yang dua puluh sifatnya, sehingga saya hampir tergila-gila dalam kematian ini. 078. Hidup itu bersifat baru dan dilengkapi dengan panca indera. Panca indera ini merupakan barang pinjaman, yang jika sudah diminta oleh yang mempunyai, akan menjadi tanah dan membusuk, hancur lebur bersifat najis, oleh karena itu panca indera tidak dapat dipakai sebagai pedoman hidup. Demikian pula budi, pikiran, angan-angan dan kesadaran, berasal dari panca indera, tidak dapat dipakai sebagai pandangan hidup. Akal dapat menjadi gila, sedih, bingung, lupa, tidur dan sering kali tidak jujur. Akal itu pula yang siang malam mengajak kita berbuat dengki, bahkan merusak kebahagian orang lain. Dengki juga akan menimbulkan kejahatan, kesombongan yang pada akhirnya membawa manusia ke dalam kenistaan dan menodai citranya. Kalau sudah samapai sedemikian parahnya manuasia biasanya baru menyesali perbuatannya. 079. Apakah tidak tahu bahwa penampilan bentuk daging, urat, sungsum, bisa merusak dan bagaimana cara anda memperbaikinya. Biarpun bersembahyang seribu kali tiap harinya akhirnya mati juga. Meskipun badan anda, anda tutupi akhirnya kena debu juga. Tetapi jika penampilan bentuknya seperti Tuhan, apakah para wali dapat membawa pulang dagingnya, saya rasa tidak dapat. Alam semesta ini adalah baru. Tuhan tidak akan membentuk dunia ini dua kali dan juga tidak akan membuat tatanan baru. 080. Mayat-mayat berkeliaran kemana-mana, ke Utara dan ke Timur, mencari makan dan sandang yang bagus dan permata serta perhiasan yang berkilauan, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah mayat-mayat belaka. Yang naik kenderaan, dokar atau bendi itu juga mayat, meskipun seringkali ia berwatak keji terhadap sesamanya. 081. Orang yang dihadapi oleh hamba sahayanya, duduk di kursi, kaya raya, mempunyai tanah dan rumah yang mewah, mereka sangat senang dan bangga. Apakah ia tidak tahu, bahwa semua benda yang terdapat di dunia akan musnah menjadi tanah. Meskipun demikian ia bersifat sombong lagi congkak. Oh, berbelas kasihan saya kepadanya. Ia tidak tahu akan sifat-sifat dan citra dirinya sebagai mayat. Ia merasa dirinya yang paling cukup pandai. 082. Di alam kematian ada surga dan neraka, dijumpai untung serta sial. Keadaan di dunia seperti ini menurut Syekh Siti Jenar, sesuai dengan dalil Samarakandi ”al mayit pikruhi fayajitu kabilahu” artinya Sesungguhnya orang yang mati, menemukan jiwa raga dan memperoleh pahala surga serta neraka. 083. ”Keadaan itulah yang dialami manusia sekarang” demikian pendapat Syekh Siti Jenar, yang pada akhirnya Siti Jenar siang malam berusaha untuk mensucikan budi serta menguasai ilmu luhur dengan kemuliaan jiwa. 084. Di alam kematian terdapat surga dan neraka, yakni bertemu dengan kebahagian dan kecelakaan, dipenuhi oleh hamparan keduniawian. Ini cocok dengan dalil Samarakandi analmayit pikutri, wayajidu katibahu. Sesungguhnya orang mati itu akan mendapatkan raga bangkainya, terkena pahala surga serta neraka. 085. Surga neraka tidaklah kekal dan dapat lebur, ataupun letaknya hanya dalam rasa hati masing-masing pribadi, senang puas itulah surga, adapun neraka ialah jengkel, kecewa dalam hati. Bahwa surga neraka terdapat dia akhirat. Itulah hal yang semata khayal tidak termakan akal. 086. Sesungguhnya, menurut ajaran Islam pun, surga dan neraka itu tidak kekal. Yang menganggap kekal surga neraka itu adalah kalangan awam. Sesungguhnya mereka berdua wajib rusak dan binasa. Hanya Allah Dzat yang wajib abadi, kekal, langgeng, dan azali. 087. Sesungguhnya, tempat kebahagian dan kemulian yang disebut swarga oleh orang-orang Hindu-Budha, di dalam Islam disebut dengan nama Jannah (taman), yang bermakna tempat sangat menyenangkan yang di dalamnya hanya terdapat kebahagian dan kegembiraan. Hampir mirip dengan swarga yang dikenal di dalam Syiwa-Budha, di dalam Islam dikenal ada tujuh surga besar yang disebut ’alailliyyin,al-Firdaus, al-Adn, an-Na’im, al-Khuld, al-Mawa, dan Darussalam. Di surga-surga itulah amalan orang-orang yang baik ditempatkan sesuai amal ibadahnya selam hidup di dunia. 088. Sementara itu, tidak berbeda dengan ajaran Syiwa-Budha yang meyakini adanya Alam Bawah, yaitu neraka yang bertingkat-tingkat dan jumlahnya sebanyak jenis siksaan, Islam pun mengajarkan demikian. Jika dalam ajaran Syiwa-Budha dikenal ada tujuh neraka besar yaitu, Sutala, Wtala, Talata, Mahatala, Satala, Atala, dan Patala. Maka dalam Islam juga dikenal tingkatan neraka yaitu, Jahannam, Huthama, Hawiyah, Saqar, Jahim, dal Wail. 089. Sebetulnya yang disebut awal dan akhir itu berda dalam cipta kita pribadi, seumpama jasad di dalam kehidupan ini sebelum dilengkapi dengan perabot lengkap, seperti umur 60 tahun, disitu masih disebut sebagai awal, maka disebut masyriq (timur) yang maknanya mengangkat atau awal penetapan manusia, serta genapnya hidup. 090. Yang saya sebut Maghrib (Barat) itu penghabisan, maksudnya saat penghabisan mendekati akhir, maksudnya setelah melali segala hidup di dunia. Maka, sejatinya awal itu memulai, akhir mengakhiri. Jika memang bukan adanya zaman alam dunia atau zaman akhirat, itu semua masih dalam keadaan hidup semua. 091. Untuk keadaan kematian saya sebut akhirat, hanyalah bentuk dari bergantinya keadaan saja. Adapun sesungguhnya mati itu juga kiamat. Kiamat itu perkumpulan, mati itu roh, jadi semua roh itu kalau sudah menjadi satu hanya tinggal kesempurnaannya saja. 092. Moksanya roh saya sebut mati, karena dari roh itu terwujud keberadaan Dzat semua, letaknya kesempurnaan roh itu adalah musnahnya Dzat. Akan tetapi bagi penerapan ma’rifat hanya yang waspada dan tepat yang bisa menerapkan aturannya. Disamping semua itu, sesungguhnya semuanya juga hanya akan kembali kepada asalnya masing-masing. 093. Ketahuilah, bahwa surga dan neraka itu dua wujud, terjadinya dari keadaan, wujud makhluk itu dari kejadian. Surga dan neraka sekarang sudah tampak, terbentuk oleh kejadian yang nyata. 094. Saya berikan kiasan sebagai tanda bukti adanya surga, sekarang ini sama sekali berdasarkan wujud dan kejadian di dunia. Surga yang luhur itu terletak dalam perasaan hati yang senang. Tidak kurang orang duduk dalam kenderaan yang bagus merasa sedih bahkan menangis tersedu-sedu, sedang seorang pedagang keliling berjalan kaki sambil memikul barang dagangannya menyanyi sepanjang jalan. Ia menyanyikan berbagai macam lagu dengan suara yang terdengar mengalun merdu, sekalipun ia memikul, menggendong, menjinjing atau menyunggi barang dagangannya pergi ke Semarang. Ia itu menemukan surganya, karena merasa senang dan bahagia. Ia tidur di rumah penginapan umum, berbantal kayu sebagai kalang kepala, dikerumuni serangga penghisap darah, tetapi ia dapat tidur nyenyak. 095. Orang di surga segala macam barang serba ada, kalau ingin bepergian serba enak, karena kereta bendi tersedia untuk mondar-mandir kemana saja. Tetapi apabila nerakanya datang, menangislah ia bersama istri atau suaminya dan anak-anaknya. 096. Manusia yang sejati itu ialah yang mempunyai hak dan kekuasaan Tuhan yang Maha Kuasa, serta mandiri diri pribadi. Sebagai hamba ia menjadi sukma, sedang Hyang Sukma menjadi nyawa. Hilangnya nyawa bersatu padu dengan hampa dan kehampaan ini meliputi alam semesta. 097. Adanya Allah karena dzikir, sebab dengan berdzikir orang menjadi tidak tahu akan adanya Dzat dan sifat-sifatnya. Nama untuk menyebut Hyang Manon, yaitu Yang Maha Tahu, menyatukan diri hingga lenyap dan terasa dalam pribadi. Ya dia ya saya. Maka dalam hati timbul gagagasan, bahwa ia yang berdzikir menjadi Dzat yang mulia. Dalam alam kelanggengan yang masih di dunia ini, dimanapun sama saja, hanya manusia yang ada. Allah yang dirasakan adanya waktu orang berdzikir, tidak ada, jadi gagasan yang palsu, sebab pada hakikatnya adanya Allah yang demikian itu hanya karena nama saja. 098. Manusia yang melebihi sesamanya, memiliki dua puluh sifat, sehingga dalam hal ini antara agama Hindu-Budha Jawa dan Islam sudah campur. Di samping itu roh dan nama sudah bersatu. Jadi tiada kesukaran lagi mengerti akan hal ini dan semua sangat mudah dipahami. 099. Manusia hidup dalam alam dunia ini hanya menghadapi dua masalah yang saling berpasangan, yaitu baik buruk berpasangan dengan kamu, hidup berjodoh dengan mati, Tuhan berhadapan dengan hambanya. 100. Orang hidup tiada merasakan ajal, orang berbuat baik tiada merasakan berbuat buruk dan jiwa luhur tiada bertempat tinggal. Demikianlah pengetahuan yang bijaksana, yang meliputi cakrawala kehidupan, yang tiada berusaha mencari kemuliaan kematian, hidup terserah kehendak masing-masing. 101. Keadaan hidup itu berupa bumi, angkasa, samudra dan gunung seisinya, semua yang tumbuh di dunia, udara dan angin yang tersebar di mana-mana, matahari dan bulan menyusup di langit dan keberadaan manusia sebagai yang terutama. 102. Allah bukan jauhar manik, yaitu ratna mutu manikam, bukan jenazah dan rahasia yang ghaib....Syahadat itu kepalsuan. 103. akhirat di dunia ini tempatnya. Hidup dan matipun hanya didunia ini. 104. Bayi itu berasal dari desakan. Setelah menjadi tua menuruti kawan. Karena terbiasa waktu kanak-kanak berkumpul dengan anak, setelah tua berkumpul dengan orang tua. Berbincang-bincanglah mereka tentang nama sunyi hampa, saling bohong membohongi, meskipun sifat-sifat dan wujud mereka tidak diketahui. 105. Takdir itu tiada kenal mundur, sebab semuanya itu ada dalam kekuasaan Yang Murba Wasesa yang menguasai segala kejadian. 106. Orang mati tidak akan merasakan sakit, yang merasakan sakit itu hidup yang masih mandiri dalam raga. Apabila jiwa saya telah melakukan tugasnya, maka dia akan kembali ke alam aning anung, alam yang tentram bahagia, aman damai dan abadi. Oleh karena itu saya tidak takut akan bahaya apapun. 107. Menurut pendapat saya. Yang disebut ilmu itu ialah segala sesuatu yang tidak kelihatan oleh mata. 108. Mana ada Hyang Maha Suci? Baik di dunia maupun di akhirat sunyi. Yang ada saya pribadi. Sesungguhnya besok saya hidup seorang diri tanpa kawan yang menemani. Disitulah Dzatullah mesra bersatu menjadi saya. 109. Karena saya di dunia ini mati, luar dalam saya sekarang ini, yang di dalam hidupku besok, yang di luar kematianku sekarang. 110. Orang yang ingin pulang ke alam kehidupan tidak sukar, lebih-lebih bagi murid Siti Jenar, sebab ia sudah paham dengan menguasai sebelumnya. Di sini dia tahu rasanya di sana, di sana dia tahu rasanya di sini. 111. Tiada bimbang akan manunggalnya sukma, sukma dalam keheningan, tersimpan di hati sanubari, terbukalah tirai, tak lain antara sadar dan tidur, ibarat kaluar dari mimpi, menyusupi rasa jati. 112. Manusia tidak boleh memiliki daya atau keinginan yang buruk dan jelek. 113. Manusia tidak boleh berbohong. 114. Manusia tidak boleh mengeluarkan suara yang jorok, buruk, saru, tidak enak didengar, dan menyakiti orang lain. 115. Manusia tidak boleh memakan daging (hewan darat, udara ataupun air). 116. Manusia tidak boleh memakan nasi kecuali yang terbuat dari bahan jagung. 117. Manusia tidak boleh mengkhianati terhadap sesama manusia. 118. manusia tidak boleh meminum air yang tidak mengalir. 119. Manusia tidak boleh membuat dengki dan iri hari. 120. Manusia tidak boleh membuat fitnah. 121. Manusia tidak boleh membunuh seluruh isi jagad. 122. manusia tidak boleh memakan ikan atau daging dari hewan yang rusuh, tidak patut, tidak bersisik, atau tidak berbulu. 123. Bila jiwa badan lenyap, orang menemukan kehidupan dalam sukma yang sungguh nyata dan tanpa bandingan. Ia dapat diumpamakan dengan isinya buah kamumu. Pramana menampilkannya manunggal dengan asalnya dan dilahirkan olehnya. 124. tetapi yang kau lihat, yang nampaknya sebagai sebuah boneka penuh mutiara bercahaya indah, yang memancarkan sinar-sinar bernyala-nyala, itu dinamakan pramana. Pramana itu kehidupan badan. Ia manunggal dengan badan, tetapi tidak ambail bagian dalam suka dan dukanya. Ia berada di dalam badan. 125. Tanpa turut tidur dan makan tanpa menderita kesakitan atau kelaparan. Bila ia terpisah dari badan, maka badan ikut tertinggal tanpa daya, lemah. Pramana itulah yang mampu mengemban rasa, karena ia dihidupi oleh sukma. Kepadanya diberi anugrah mengemban kehidupan yang dipandang sebagai rahasia rasa nya Dzat. 126. Penggosokan terjadi karena digerakkan oleh angin. Dari kayu yang menjadi panas muncullah asap, kemudian api. Api maupun asap keluar dari kayu. Perhatikanlah saat permulaan segala sesuatu, segala yang dapat diraba dengan panca indera, keluar dari yang tidak kelihatan tersembunyi….. 127. Ada orang yang menyepi dipantai. Mereka melakukan konsentrasi di tepi laut. Buka dua hal yang mereka pikirkan. Hanya Pencipta semesta alam yang menjadai pusat perhatiannya. Karena kecewa belum dapat berjumpa dengan-Nya, maka mereka lupa makan dan tidur. 128. Badan jasmani disebut cermin lahir, karena merupakan cermin jauh dari apa yang dicari dalam mencerminkan wajah dia yang ber-paes. Cermin batin jauh lebih dekat. 129. Siang malam terus menerus mereka lakukan shalat. Dengan tiada hentinya terdengarlah pujian dan dzikir mereka. Dan kadang mereka mencari tempat lain dan melakukan konsentrasi di kesunyian hutan. Luar biasalah usaha mereka, hanya Penciptalah yang menjadi pusat pandangannya. 130. Badan cacat kita cela, keutamaan kerendahan hati kita puji, tetapi keadaan kita ialah digerakkan dan didorong olek sukma. Tetapi sukma tidak tampak, yang nampak hanya adan. 131. Cermin batin itu bukanlah cermin yang dipakai orang-orang biasa. Cermin ini sangat istemewa, karena mendekati kenyataan. Bila kau mengetahui badan yang sejati itulah yang dinamakan kematian terpilih. 132. Bila engkau melihat badanmu, Aku turut dilihat … Bila kau tidak memandang dirimu begitu, kau sungguh tersesat. 133. Sukma tidak jauh dari pribadi. Ia tinggal di tempat itu jua. Ia jauh kalau dipandang jauh, tetapi dekat kalau dianggap dekat. Ia tidak kelihatan, karena antara Dia dan manusia terdapat kekuadaan-Nya yang meresapi segala-galanya. 134. Hyang Sukma Purba menyembunyikan Diri terhadap peglihatan, sehingga ia lenyap sama sekali dan tak dapat dilihat. Kontemplasi terhadap Dia yang benar lenyap dan berhenti. Jalan untuk menemukan-Nya dilacak kembali dari puncak gunung. 135. Tetapi Hyang Sukma sendiri tidak dapat dilihat. Cepat orang turun dari gunung dan dengan seksama orang melihat ke kiri ke kanan. Namun Dia tidak ditemukan, hati orang itu berlalu penuh duka cita dan kerinduan. 136. Hendaklah waspada terhadap penghayatan roroning atunggil agar tiada ragu terhadap bersatunya sukma, penghayatan ini terbuka di dalam penyepian, tersimpan di dalam kalbu. Adapun proses terungkapnya tabir penutup alam gaib, laksana terlintasnya dlam kantuk bagi orang yang sedang mengantuk. Penghayatan gaib itu datang laksana lintasan mimpi. Sesungguhnya orang yang telah menghayati semacam itu berarti telah menerima anugrah Tuhan. Kembali ke alam sunyi. Tiada menghiraukan kesenangan duniawi. Yang Maha Kuasa telah mencakup pada dirinya. Dia telah kembali ke asal mulanya….. 137. Mati raga orang-orang ulama yang mengundurkan diri di dalam kesunyian hutan ialah hanya memperhatikan yang satu itu tanpa membiarkan pandangan mereka menyinpang. Mereka tidak menghiraukan kesukaran tempat tinggal mereka hanya Dialah yang melindungi badan hidup mereka yang diperlihatkan. Tak ada sesuatu yang lain yang mereka pandang, hanya Sang Penciptalah yang mereka perhatikan. 138. Yang menciptakan mengemudi dunia adalah tanpa rupa atau suara. Kalbu manusia yang dipandang sebagai wisma-Nya. Carilah Dia dengan sungguh-sungguh, jangan sampai pandanganmu terbelah menjadi dua. Peliharalah baik-baik iman kepercayaanmu dan tolaklah hawa nafsumu. 139. Bila kau masih menyembah dan memuji Tuhan dengan cara biasa, kau baru memiliki pengetahuan yang kurang sempurna. Jangan terseyum seolah-olah kau sudah mengerti, bila kau belum mengetahui ilmu sejati. Itu semua hanya berupa tutur kata. Adapun kebenaran sejati ialah meninggalkan sembah dan pujian yang diungkapkan dengan kata-kata. 140. Sembah dan puji sempurna ialah tidak memandang lagi adanya Tuhan, serta mengenai adanya sendiri tidak lagi dipandang. Papan tulis dan tulisan sudah lebur, kualitas tak ada lagi. Adamu tak dapat diubah. Lalu apa yang masih mau dipandang. Tidak ada lagi sesuatu. Maklumilah. sumber - shahibul katib, wikepedia dan lain-lain